I Love You Before And After (part 2)-END

 

Title: I Love You Before and After (Part 2)- END

Author: Kim Hyera

Main cast:

  • Cho Kyuhyun
  • Seohyun
  • Choi Minho

Rating: PG 15+

Genre: Romance, Kekerasan

Lenght: Twoshoot

*******

 

Seohyun POV

Aku bangun dari tidurku. Tubuhkuku terasa pegal dan rasa sakit masih terasa didaerah kewanitaanku. Segera aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri, lengket yang kurasa saat ini. Segera kunyalakan shower dan membiarkan air yang keluar membersihkan seluruh tubuhku.

Aku menangis jika mengingat kehidupan yang aku jalani saat ini, sangat menyedihkan. Sikap Minho yang begitu kasar dan memaksaku untuk menuruti semua kemauannya. Benar-benar membuatku lelah. Sangat lelah. Tapi aku tak mampu untuk melawannya karena itu sama saja menyakiti diriku sendiri. Minho sangat jauh berbeda dengan Kyuhyun, yang selalu memperlakukannku dengan sabar dan lembut. Aku akui, aku sangat merindukan namja itu. Hahh!!sampai kapan aku harus begini?.

Aku berjalan keluar kamar mandi dan mendapati Minho masih tertidur lelap. Kuteruskan langkahku keluar kamar dan berjalan menuju dapur lalu membuka kulkas. Kulihat bahan-bahan makanan yang sudah mulai menipis. Jelas saja selama seminggu ini aku tak diperbolehkan keluar oleh Minho. Jadi aku masak semua isi kulkas untuk membuat makanan yang selalu dinilainya tidak enak. Aku memakai mantelku untuk mencegah hawa dingin yang akan menyerang tubuhku. Sekarang adalah awal musim dingin, dan salju mulai turun.

Dengan langkah pasti aku berjalan keluar. Aku tau Minho pasti akan memarahiku karena melakukan hal-hal yang tidak ia sukai. Tapi apa salah jika aku keluar untuk membeli kebutuhan rumah tangga yang juga ia gunakan. Angin dingin berhembus menerpa wajahku, segera kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya. Aku tersenyum karena kembali melihat dunia luar yang seminggu terakhir ini tak pernah aku lihat.

Aku berjalan menuju supermarket yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalku. Tapi sengaja aku memperlambat langkahku, dan melihat keadaan sekitar. Sekitar 20 menit kemudian aku telah tiba didepan pintu supermarket itu. Tak banyak orang yang berbelanja disana. Hanya beberapa ibu-ibu rumah tangga yang tengah memilih-milih beberapa sayuran. Aku putuskan juga ikut memilih sayuran, baru setelah ini membeli bahan-bahan yang lainnya.

Aku mendorong kereta belanjaku pelan sambil mengamati deretan bahan makanan yang tersusun rapi. Hampir semua sudah kubeli dan tinggal beberapa lagi yang harus aku cari. Tapi tiba-tiba keretaku menabrak seseorang. Kudengar suaranya mengerang menahan sakit. Bodohnya aku selalu melakukan hal-hal yang ceroboh, pantas saja Minho selalu memarahiku. Aku langsung menghampirinya, ia sedang memegang perutnya yang tertabrak keretaku.

“Gwenchanayo? Aku benar-benar meminta maaf karena tidak hati-hati,” ucapanku benar-benar menyesal.

Ia mendongakkan kepalanya, membuat mataku membulat sempurna. Wajah yang benar-benar tidak asing bagiku. Seketika jantungku berdetak secara tak normal.

“Kyuhyun Oppa…”ucapku masih tak percaya namun ia menyunggingkan senyuman yang benar-benar aku rindukan.

“Annyeong, sedang apa kau disini?” tanyanya dengan nada yang tak pernah berubah sejak dulu, lembut. Aku belum menjawab pertannyaannya, karena bingung harus menjawab apa.

“Kau sedang berbelanja bahan-bahan rumah tangga ya?” tambahnya lagi dan menjulurkan kepalanya melihat isi kereta belanjaku.

“Ah..n..ne Oppa” ucapku kikuk. Jujur saja aku masih tak enak jika mengingat statusku yang sudah menjadi seorang istri.

“Kau sendiri sedang apa?” tanyaku berusaha menyembunyikan perasaan canggungku.

“Seperti yang kau lihat, membeli bahan-bahan makanan untuk mengisi kulkasku,”ucapnya dengan tersenyum. Ia terus memperhatikanku, membuatku sedikit risih akibat pandangannya.

“Kau terlihat kurus dari yang terakhir kulihat, Seohyun-ah apakah kau sakit?” ucapannya membuat hatiku sedikit tertohok, benarkah aku menjadi kurus setelah menikah dengan Minho? Ya aku akui aku kurang berselera makan mengingat perlakuan Minho yang kurang menyenangkan.

“Be..benarkah aku terlihat seperti itu?tapi nafsu makanku tak berubah selama ini” dustaku. Oh Tuhan tolonglah, aku tak pandai berbohong. Semoga saja ia percaya.

“Mmm, ya mungkin itu hanya penilaianku saja, sudah lama kita tak bertemu,” ucapnya dengan nada yang sedikit kecewa. Aku ikut sedih melihat raut wajahnya yang seketika murung.

“Kyuhyun oppa, aku harus segera pulang. Minho pasti sudah menungguku lama.”

Tak sengaja aku menyebutkan nama Minho. Aku benar-benar mengutuk ucapanku tadi. Ia mendongakkan kepalanya menatapku, kemudian tersenyum.

“Ah, ne aku lupa, pasti suamimu sudah menunggumu. Bilang padanya, aku minta maaf karena telah mengajak istrinya mengobrol hal-hal yang tidak penting.”

Aku tersenyum kecut mendengar kata-katanya. Meminta maaf? Untuk apa?aku sangat bahagia ketika mendengar suaramu Kyuhyun oppa. Hal-hal tidak penting? Lupakan saja semua, apapun yang kau tanyakan tentang diriku tadi adalah hal-hal yang sangat penting

Bahkan orang tuaku saja tak pernah bertanya bagaimana kabar anaknya setelah pernikahan. Aku hanya mengangguk membalas perkataanya, kemudian mendorong kereta dan berjalan meninggalkannya.

*******

 

“Kemana saja kau?Keluar tanpa seizinku!!” Suara Minho membuatku terkejut.

Baru saja kakiku melangkah masuk kedalam apartement, ia sudah meneriakiku. Aku tak menjawab, melainkan menunjukkan 2 kantong besar belanjaan ditanganku. Ia tak mengeluarkan suara lagi, dan melengos pergi keruang tengah.

Aku meletakkan kantong belanjaan itu diatas meja dapur. Kemudian mengeluarkan isi nya. Aku mendengar suara Minho yang tengah berteriak diruang tengah. Bisa kutebak ia tengah menonton sepak bola, acara favoritnya. Namun seketika keadaan kembali hening, entah apa yang ia lakukan sekarang.

Selesai menyusun bahan-bahan dapur, aku pergi menuju kamar. Aku tak melihat Minho diruang tengah. Kemana perginya orang itu? Aku melihat secarik kertas yang tertempel di kaca meja riasku. Aku membacanya perlahan, ternyata isinya tentang Minho yang harus pergi keluar kota karena urusan kantor.

Tumben sekali ia memberitahuku, biasanya ia melakukan semuanya dengan sesuka hati. Dan kapan ia pergi? Aku tak mendengar pintu apatement ditutup.

Masa bodoh dengan semuanya. Selama ia pergi aku dapat istirahat dengan tenang. Tak mendengar suara teriakannya selama beberapa hari kedepan. Aku bahagia.

 

*******

Hari ini aku hanya bermalas-malasan di atas sofa ruang tengah sambil menonton acara yang ditayangkan di televisi. Bukannya aku malas karena ditinggal Minho, tapi aku cepat merasa lelah setelah melakukan kegiatan yang ringan sekalipun. Entahlah kepalaku juga terasa pusing. Mungkin aku hanya masuk angin biasa.

Tak berapa lama kemudian aku mendengar pintu apartement dibuka, pasti Minho. Ya, dia pergi selama dua minggu dan hari ini ia pulang. Aku tak menyambutnya, badanku masih terasa lemas. Minho berjalan mendekatiku, aku tak memperdulikannya.

“Ya, kau tak menyambutku!! Kau hanya bermalas-malasan selama aku tinggal?” Huh! Lagi-lagi aku harus mendengar omelannya.

“Aku lelah Minho-ssi, badanku terasa lemas,” ujarku pelan, bahkan saat berbicara pun aku merasa lemas. Kulihat wajah Minho berubah menjadi cerah, senyum mengembang dibibirnya. Ada apa dengannya? Dasar aneh.

“Cepat ganti pakaianmu,” ucapnya menarik tanganku kasar agar aku bangun dari sofa.

“Ya!jangan tarik tanganku seperti ini, sakit!”ucapku berteriak. Wajahnya kembali masam, sebentar lagi pasti dia akan membentakku.

“KAU! Berani melawanku? Aku bilang ganti pakaianmu cepat!!” bentakannya membuatku takut. Aku segera berlari menuju kamar dan mengganti pakaianku. Setelah siap, ia masuk kekamar dan kembali menarikku paksa agar berjalan mengikutinya. Jujur tanganku sakit akibar perlakuannya, tapi aku takut untuk melawannya seperti tadi.

Ia melajukan mobilnya menuju klinik kandungan. Apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Memangnya aku sedang hamil, aku hanya masuk angin. Ia memarkirkan mobilnya kemudian turun. Sedangkan aku, tetap didalam mobil. Ia berdecak kesal, kemudian membukakan pintu mobil untukku.

“Turunlah cepat!” ucapnya dengan nada kesal, aku menatap wajahnya heran.

“Minho-ssi, untuk apa kita kesini?” ucapku dengan nada yang hati-hati.

“Jangan banyak bicara, ikut saja denganku. Sekarang cepat turun,”ucapnya. Aku menuruti kata-katanya. Kemudian masuk kedalam ruangan dokter. Hari ini tidak ada yang mengantri, jadi aku mendapat nomor urut pertama. Aku disambut oleh senyuman ramah seorang dokter, ia menyuruhku masuk kedalam ruang pemeriksaan. Setelah selesai, ia menyuruhku menunggu untuk mengehtahui hasilnya. Entah mengapa aku gelisah, berbeda dengan Minho yang lebih tenang.

“Chukkae, istri anda hamil.”

Perkataan dokter dihadapanku membuat tubuhku lemas seketika. Entahlah kurasa setengah tenagaku terbang melayang.

“Jeongmalyo?” tanya Minho tak percaya. Dokter itu mengangguk.

“Ne. Usia kandungan istri anda baru dua minggu, jadi kusarankan harus berhati-hati dan jangan melakukan pekerjaan yang berat,”ucap Dokter itu. Aku hanya tersenyum kecut, berbeda dengan Minho yang tampaknya sangat bahagia. Setelah selesai membayar aku dan Minho pulang.

Didalam perjalanan, aku tak berbicara sedikitpun. Aku lebih memilih menatap keluar jendela. Memperhatikan gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh.

“Aku sangat senang mendengar kau hamil,”ucap Minho memecah keheningan.

Aku memalingkan wajahku menatapnya yang masih fokus menyetir. Aku menghembuskan nafasku, aku tau dia pasti sangat senang. Karena sebentar lagi akan ada penerus perusahaannya. Kurasakan sakit dibagian jantungku. Sesak, karena aku akan ditinggalkan setelah melahirkan anak yang tengah aku kandung. Jujur aku tak mau berpisah dengan darah dagingku sendiri. Aku memang tak mencintai Minho, tapi aku sangat mencintai dia, janin yang ada di rahimku. Air mataku jatuh. Tuhan mengapa aku harus menjalani kehidupan seberat ini?

“Kau menangis? Jangan sia-sia kan air matamu,”ucap Minho sinis.

“Minho-ssi setelah aku melahirkan anak ini, apakah aku masih boleh mengujunginya?” tanyaku di sela-sela tangisku.

“Mwo?mengunjunginya?Entahlah,” jawabnya menambah pedih dihatiku.

“Kau sudah tau kan setelah kau melahirkan, aku akan langsung menceraikanmu. Dan soal anak itu, aku yang akan merawatnya. Aku akan mengakui bahawa kau adalah ibunya. Tapi untuk mengunjunginya, kau harus mendapat izin dariku dulu,” ucap Minho lagi.

Ya. Setelah mendengar pernyataannya yang menyakitikan itu, terselip rasa bahagia dihatiku. Ternyata ia masih berbaik hati, mengakui bahwa aku adalah ibu dari anaknya. Dan juga masih bersedia mempertemukanku dengan buah hatiku sendiri. Meskipun aku tau, mendapat izin darinya sangatlah tidak mudah. Sikap mengaturnya itu, tak akan hilang dalam sekejap.

*******

 

Usia kandunganku sekarang sudah 7 bulan. Nafsu makanku benar-benar bertambah. Badanku membengkak. Dan juga perutku semakin membesar. Dua bulan lagi anak ini lahir,aku tak sabar ingin melihat wajahnya. Apakah ia akan mirip dengan Minho?

Aku harap ia mempunyai mata besar dan hidung yang sempurna seperti Minho. Tentang Minho, namja itu masih saja kasar. Ia hanya menyuruhku melakukan pekerjaan ringan dan sisanya ia yang mengerjakan. Meskipun begitu, ia masih sering membentakku.

Aku menghempaskan tubuhku lemas keatas sofa, sambil mengelus perutku. Kulihat Minho yang tengah berkutat dengan laptop yang ada didepannya. Hari ini adalah hari Minggu, jadi seharian ini ia dirumah. Dari tadi pagi aku tidak mendengar bentakannya, baguslah.

Sepertinya ia benar-benar sibuk dengan tugas kantornya. Aku menyalakan televisi, mencari acara yang bagus di hari Minggu ini. Mataku terpaku pada sebuah acara memasak, tiba-tiba aku merasa lapar. Aku ingin makan makanan yang berbau pasta. Mungkin aku kembali ngidam, wajar saja itu terjadi pada ibu hamil sepertiku.

Aku berjalan kearah Minho. Mencoba meminta izin untuk pergi keluar. Aku menarik lengan bajunya, agar ia sadar akan keberadaanku. Ia menoleh.

“Aku ingin keluar sebentar,” ucapku sedikit ragu. Ia mengerutkan dahi memandangku. Kemudian kembali fokus kearah laptop nya. Aku kehilangan harapan, ia tak mengizinkan aku pergi.

“Pergilah, jangan pulang terlalu sore,” ucapnya sambil mengetik. Mataku langsung  berbinar mendengar kata-katanya.

“Gomawo Minho-ssi,” teriakku sambil berlari kecil kearah kamar mengambil dompet dan sweater putih milikku.

********

 

Aku melangkahkan kakiku kedalam restoran pasta yang tidak terlalu jauh dari apartementku. Tak banyak pengunjung sore ini. Aku memesan seporsi Spaghetti Bolognese dan segelas orange juice. Aku memilih tempat duduk yang menghadap kearah luar.

“Seohyun,” Seseorang memanggil namaku, suaranya sangat familiar.

Aku menghadap sumber suara, sosok namja tampan dengan tampilan casual berdiri dihadapanku. Ia tersenyum, manis sekali. Senyuman yang selalu membuat jantungku berdebar seperti sekarang. Ia adalah Kyuhyun, namja yang terakhir kali aku temui 6 bulan yang lalu.

“Kyuhyun oppa, sedang apa kau disini?” tanyaku dengan suara gugup.

“Aku baru saja selesai makan. Kau sendirian?” ucapnya kemudian mengambil tempat duduk dihadapanku.

“Ne, aku sendirian,”ucapku singkat.

“Kau terlihat gemuk Seohyun-ah,” nilainya kearahku. Ia belum tau kalau aku sedang mengandung.

“Aku sedang hamil Oppa,” ucapku dengan nada pelan.

“Kau sedang hamil? Waah…chukkae,” ucapnya girang. Namun dari raut wajahnya menampakkan gurat kesedihan. Aku tau itu, kau pasti sangat sakit mengetahui ini Kyuhyun Oppa.

“Berapa usia kanduganmu?” tanyanya antusias.

“7 bulan oppa,” jawabku singkat.

“Kau harus menjaga kondisimu Seohyun-ah. Supaya kau dan bayimu itu sehat,”ucapnya kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Wah, tak terasa sudah hampir petang. Aku harus segera pulang. Annyeong, jaga kesehatanmu. Beri tau aku jika anakmu sudah lahir,” ucapnya kemudian beranjak pergi dari hadapanku. Hatiku masih saja terasa sesak jika melihat wajah Kyuhyun oppa yang berubah murung seperti sekarang.

Pesanan makananku datang. Tapi mood ku sudah berubah, aku tak berselera makan lagi saat ini. Akhirnya aku membawa pulang makanan itu, untuk aku berikan kepada Minho.

*********

 

Hari ini usia kandunganku sudah  9 bulan. Tapi belum ada tanda-tanda aku akan melahirkan. Ku langkahkan kakiku menuju dapur. Tumpukan piring kotor yang belum sempat dicuci telah menumpuk seperti gunung. Aku berdecak kesal, Minho bilang akan mencucinya tadi malam tapi nyatanya ia malah tertidur setelah tugas kantornya selesai. Aku memakai sarung tangan dan  mulai mencuci piring-piring tersebut satu-persatu.

Tapi tiba-tiba perutku terasa sakit dan mulas. Semakin lama sakitnya semakin terasa. Aku sudah tak kuat lagi berdiri. Aku memecahkan piring yang tengah aku pegang dan jatuh terduduk di lantai. Ada cairan bercampur dengan darah keluar dari arah selangkanganku.

Aku tak dapat menahan tangisku. Aku memanggil-manggil nama Minho agar namja itu keluar kamar. Keringatku bercucuran, rasa mulas sekarang semakin menjadi.

Tak lama kemudian aku dapat mendengar suara Minho yang berteriak kearahku. Segera ia menggendong tubukhu keluar dari apartement dan memasukkanku kedalam mobil. Ia kemudikan mobilnya cepat. Karena sedari tadi aku berteriak dan meremas lengan bajunya dengan keras.

*********

 

Author POV

 

Seohyun segera dibawa keruang persalinan oleh beberapa suster. Minho tampak panik melihat keadaan wanita itu. Ia mondar-mandir didepan pintu ruang bersalin. Ia dapat mendengar suara Seohyun dari dalam. Minho meremas rambutnya, berharap anaknya akan selamat. Ia tak memikirkan Seohyun yang tengah berjuang melawan maut didalam sana.

Minho mengambil ponselnya, mencoba menelpon kedua orangtuanya. Tak berapa lama sepasang wanita dan laki-laki paruh baya berlari kearahnya. Tampak sekali kekhawatiran yang tergambar jelas diwajahnya. Orang tua Minho berdoa untuk keselamatan Seohyun dan juga cucu mereka. Berbeda dengan Minho yang berdoa hanya untuk keselamatan anaknya saja. Untuk Seohyun? Masa bodoh, batinnya.

Klek…

Pintu ruang bersalin itu terbuka. Seorang dokter keluar dengan senyum dibibirnya. Minho adalah orang pertama yang menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaan anak saya dok? Dia selamat kan?” tanya Minho cepat.

“Ne. Anak anda selamat, begitu juga dengan ibunya. Anda dapat melihat keadaan istri anda setelah beliau dipindahkan keruang perawatan,”mjelas dokter itu kemudian meninggalkan Minho yang bernapas lega. Anaknya selamat.

 

******

 

Sesosok bayi laki-laki mungil kini tengah berada di gendongan Minho. Kini ia telah resmi menjadi seorang ayah. Senyum tak kunjung hilang dari bibirnya. Ia sangat bahagia. Disampingnya terbaring Seohyun yang tengah tertidur, keadaannya masih lemah.

Minho memandang anaknya kemudian Seohyun bergantian. Ada rasa bersalah yang menggelayut didalam dirinya. Ia merasa bersalah, selama ini selalu bertindak kasar terhadap Seohyun. Ia meletakkan anaknya kedalam box bayi. Seohyun terbangun dari tidurnya. Dengan cepat Minho memegang tangannya.

“Aku tak akan melarangmu untuk melihat anak kita. Maafkan aku,” ucap Minho tulus. Seohyun memandangnya dengan terkejut, padahal tadi ia belum sadar benar dari tidurnya. Rasa bahagia kini melanda hatinya.

“Tapi kita tetap akan berpisah. Itu sudah menjadi keputusanku bulat,” ucap Minho kemudian. Tapi itu tidak masalah bagi Seohyun, asalkan ia masih bisa bersama dengan anaknya.

“Surat cerai harus kau tanda tangani besok,” ucap Minho kearah Seohyun yang memandangnya dengan tersenyum lebar.

“Gomawo Minho-ssi, kau telah mengizinkanku untuk melihat sekaligus merawat anak kita. Meskipun kita harus berpisah,” ucap Seohyun dengan suara lembutnya.

Minho hanya membalasnya dengan anggukan kemudian kembali menggendong anaknya. Sungguh ini adalah keajaiban yang saat ini ia dan Seohyun rasakan.

 

**********

 

3 month later…..

 

Sekarang Seohyun telah resmi bercerai dengan Minho. Namun hubungan keduanya malah semakin membaik. Minho telah kembali menikah dengan seorang gadis yang lebih muda darinya bernama Arra. Mereka sangat bahagia, berbeda saat Minho menikah dengan Seohyun.

Dan Seohyun kini tengah sibuk dengan usaha toko bunga kecil miliknya. Sesekali ia datang menemui anaknya dirumah Minho. Kehidupannya kini semakin membaik, meskipun statusnya telah menjadi seorang janda. Hari ini toko bunga milik Seohyun ramai oleh pembeli. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari Valentine, hari kasih sayang. Wajah Seohyun tampak lelah, namun senyum masih terlukis jelas dibibirnya.

Ting..ting…

Bel toko Seohyun kembali berbunyi. Padahal hari sudah larut, masih saja ada pembeli yang datang. Seohyun yang tengah sibuk di meja kasir segera berdiri untuk menyambut pelanggannya.

Namun mata Seohyun membulat melihat sosok yang berdiri didepannya. Dengan sebuket besar bunga mawar berwarna merah yang tengah dipegangnya. Cho Kyuhyun, namja itu tersenyum manis kearah Seohyun.

“Selamat hari kasih sayang Seohyun-ah,” ucap Kyuhyun kemudian menyerahkan buket mawar itu kearah Seohyun. Seohyun menerimanya dengan jantung yang berdebar cepat.

“Gomawo Kyuhyun Oppa. Kau orang pertama yang mengucapkan selamat hari kasih sayang kepadaku,” ujar Seohyun tersipu malu, semburat merah kini menghiasi wajah putihnya. Kyuhyun menarik tangan yeoja itu. Membawanya kedalam pelukan hangatnya.

“Maukah kau menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku? Seperti aku yang pertama mengucapkan selamat hari kasih sayang kepadamu saat ini,” ucap Kyuhyun lembut dan mengusap rambut panjang Seohyun. Seohyun terharu mendengarnya. Ia baru saja dilamar oleh pria yang selama ini masih sangat ia cintai.

“Saranghae Hyunnie-ah,” ucap Kyuhyun ketika melepaskan pelukannya. Memandang kedua mata indah Seohyun dengan dalam. Membuat dentuman jantung yeoja itu semakin keras.

“Dangsineun yeongwonhi saranghanda (selamanya aku akan mencintaimu)” ucap Kyuhyun lagi. Seohyun masih terdiam, belum menjawab pernyataan cintanya. Airmatanya jatuh, bukan air mata kesedihan namun air mata kebahagiaan.

“Nado saranghae Oppa,” ucapnya kemudian memeluk Kyuhyun erat.

“Apapun yang kau perbuat, aku akan mencintaimu sebelum dan sesudahnya,” ucap Kyuhyun kemudian mencium bibir Seohyun dengan lembut.

‘Benar katamu Oppa, pada akhirnya semua berakhir dengan indah’

I Love You Before And After…

 

THE AND

Akhirnya ff yang menurut para reader yang udah baca ekstrim banget ini seesai juga. Maaf kalau di part 1 nya Minho jadi kasar dan jahat. Aku udah merubah karakter Minho jadi lebih baik di part yang ini..ehehehehe…maaf yah readers..

Gimana endingnya?mengecewakan yah?

Gak romantis yah?

Huhu maaf yah readers^^

Ya udah deh..saya tunggu coment dari kalian semua!!^^

32 thoughts on “I Love You Before And After (part 2)-END

  1. chap 1 nya BAGUS..!!! agak miris ya, minho kasar bgt😦 tapi kyu oppa baiik bgt!!!
    yes yes SeoKyu akhirnya bersatu #eh
    SEOKYU jjang..!!!
    ayo eonnie..!!! lanju lanjut ff pair yang lain….🙂
    gasahamnida~

  2. eh aku udah baca part 1 nya di smtownff.. seruuuuu..
    pas nemuin blog aslinya langsung aku baca aja gapapa kan?
    akhirnya seokyu bersatu lagi #seneng
    walaupun harus berpisah dulu tapintetep indah diakhir🙂

  3. aq terharu dengan sikap kyu oppa yang setia nunngu bwt seo oeni….😥

    itu adalah ujian untuk sepasang kekasih yg akan hidup bahagia selamanya,,, meskipun sangat sakit, berat, & miris #sok tau,,
    tp kyu oppa bisa menjalaninya dengan hati yg ikhlas… b_d

    d tunggu ff yg laen’y thor…
    fighting!!!!!!

  4. kebanyakan seo minhonya
    kyu kyk cameo disini
    knpa author gk nyeritai juga tntng perasaan kyu pas ud di tinggal seo ya? huumm over all bagus bgt hihi

  5. Yaakk..!! Minho jahat bener sihh ma unnieku yg manis ..huhuu , minho ga punya hati! Dia gak nyesel, cuman ngerasa bersalah doang udh menyia”kan Seobaby. Huh dasar!😮 tapii gapapa thor, yg penting ending nyh Seokyu bahagia.. EHehe😀 emang semua part dr Seohyun side yah thor? Ko gada yg Minho/Kyuppa side??
    ~gomawo ^^🙂

  6. kejam bngt perlakuan minho oppa sma seohyun smpe kyk ngk k urus gtu, kyu aja yg mantan nya perlakuannya ngk gtu.
    liat akhir enddinya seneng kyuhyun jdi sma seohyun
    tpi kurang puas
    apa ada sequelnya author?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s