A Piece of Sunset Memories

Title: A Piece of Sunset Memories

Author: Kim Hyera

Main Cast:

  • Sugmin Super Junior
  • Sunny SNSD
  • Kyuhyun Super Junior

 

Rating: General

Categories: Oneshoot

Dislamier:

                This FanFic is not mine, but my friend wrote (Park Hee Jin). I just help her to publish this FanFic, because she doesn’t have any blog. So give your comment, please.

 

Sunny P.O.V

Ku tatap nanar mini notebook di depanku. Sebenarnya ada rasa enggan kembali ke kota yang setengah mati berusaha kulupakan dan tak ingin ku jejaki lagi. Tempat-tempat yang menggoreskan banyak kenangan. Orang-orang yang pernah singgah.

Tiga tahun berlalu sudah sejak kepergianku. Tiga tahun yang begitu menyiksa. Mungkin banyak yang berubah. Entahlah…

Menit demi menit berlalu sejak aku masuk ke cafe ini. Menunggu dalam hening. Hening yang menggigit dan menarikku ke suatu kenangan. Kenangan akan saat-saat terakhir itu.

“Jadi semuanya harus berakhir  seperti ini?” tanyaku memecah hening diantara kami. Hening yang selalu hadir ketika kami tak sejalan.

“Setelah semua yang kita lalui— kau ingin aku pergi?”

Tak satu pun kata yang keluar dari bibirnya. Kata yang begitu ku harapkan dan bisa menahanku untuk tetap tinggal. Kucoba cari jawab di matanya. Namun, ia berpaling menatap langit.

“Maafkan aku… aku harus melupakanmu,” ucapnya lirih sambil bangkit dari duduknya. Setarik nafas, dia berlalu.

Keheningan itu kembali hadir, tapi tak sendiri. Kali ini dengan derai air mata yang sedari tadi ku tahan.

“Sunny-ah.” Tepukan halus di pundakku menyadarkanku dari lamunan. Kualihkan pandangan. Sebersit haru di matanya saat kami bertatapan.

“Eh, Kyuhyun Oppa. Apa kabar?” tanyaku sembari menyunggingkan senyum.

Patah. Kyuhyun Oppa adalah sahabatku. Seorang sahabat yang lebih tua dari ku 10 bulan. Tetap dengan senyuman khas, jauh berbeda dengan…

‘Ah, kenapa semua yang kutemui di kota ini selalu menarikku ke saat itu? Dan kenangan akan sosok itu.’

“Baik. Akhirnya ku datang, Sunny-ah,” jawabnya sambil menatapku lekat. Tatapan yang membuatku kikuk. Tiga tahun tak berjumpa membuat jarak antara kami semakin lebar.

Ingin rasanya aku berlari kepelukannya yang selalu membuatku nyaman. Seperti yang sering aku lakukan dulu.

“Kita langsung ke rumah saja ya,” ajaknya.

“Aku…”

Ragu. Entah apa yang terjadi jika aku harus ikut dia. Melihatnya disini, sudah cukup membangkitkan kenangan-kenangan itu.

“Ayolah, Eomma sudah menunggumu.”

Ku bereskan mini notebook ku yang sedari tadi menemaniku menunggunya. Perlahan ku tarik nafas dalam, mencoba melepaskan ragu yang datang sebelum melangkah mengikutinya.

****

Waktu seperti enggan berputar ketika aku memasuki rumah ini. Rumah yang menyimpan sebagian besar kenangan kami, berdua dengannya dan bertiga dengan Kyuhyun Oppa. Seharusnya aku tidak menuruti permintaannya untuk ikut. Bahkan sambutan Eomma, panggilanku untuk Ibunya Kyuhyun Oppa tidak banyak membantu. Aku merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Sesuatu yang tidak ku ketahui. Seperti juga sikap Kyuhyun Oppa malam ini.

“Sunny-ah,” panggilnya membuatku menoleh.

“Mm?” gumamku.

“Kau baik-baik saja tiga tahun ini?”

“Baik— hidup harus terus berjalan kan Oppa? Aku menikmati hidupku sekarang, juga pekerjaanku…”

“Hidup— termasuk kencan?” potongnya lirih.

“Beberapa, cuma teman dekat. Tapi…”

“Tapi kau masih belum bisa melupakannya?”

“Sudahlah, Oppa. Aku tidak ingin mengingat semuanya kembali. Semuanya sudah berakhir.”

“Mungkin, Sunny-ah,” nada suaranya berubah.
“Mungkin semuanya sudah berakhir buatmu, dan buat dia— tapi tidak buatku…”

“Oppa…” ucapku terputus karena ia melanjutkan kalimatnya.

“Maafkan aku Sunny-ah,” ucapnya lirih sambil meraih tanganku. “Seharusnya aku tidak ikut campur.”

“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti dengan ucapannya.

“Aku sudah tahu semuanya dari awal. Kalian, Sungmin dan kau, perpisahan itu. Semuanya sudah di rencanakan. Aku hampir lemah ketika kau datang padaku dengan air mata.”

“Oppa!” pekik ku tak percaya.

“Aku terpaksa membantunya untuk membuatmu jauh.”

“Kenapa? Karena dia sahabatmu? Dan aku apa?” ucapku penuh emosi.

“Sunny-ah.” Kyuhyun Oppa mengelus punggung tanganku lambut.

“Kau tega Oppa! Aku…” Aku terdiam sejenak. Kutarik nafas untuk menghalau amarah dalam diriku.

“Oppa tahu kabarnya? Dia masih disini kan? Di kota ini?” cecarku dengan banyak pertanyaan.

“Sunny-ah…”

Kyuhyun Oppa menatapku dengan mata basah. Air mata itu, kedua kalinya aku melihatnya. Ketika ayahnya tewas saat kecelakaan, dan sekarang. Tiba-tiba rasa dingin datang menyergapku. Kesadaranku kembali, tatapan Kyuhyun Oppa saat menjemputku di bandara, sama seperti tatapannya saat ini. Bukan rasa haru, tapi rasa sedih yang mendalam.

“Dia telah pergi, Sunny-ah— selamanya,” gumamnya perlahan memulai cerita.

Ada keheningan yang panjang ketika ia mengakhiri ceritanya. Larut dengan pikiran masing-masing. Tangis yang sedari tadi pecah masih tersisa.

“Sekali lagi maafkan aku Sunny-ah,” ucapnya dengan isakan tangis yang masih terdengar jelas.

Aku masih terdiam dan mencerna setiap kalimat yang ia ceritakan tadi. Hingga mataku mulai memanas.

“Seandainya kalian berfikir, betapa perihnya hatiku saat ini, saat semuanya telah terungkap. Aku kehilangan untuk yang kedua kalinya,” ucapku dengan bibir bergetar. Menahan amarah, kecewa, sakit dan juga sedih.
“Aku mungkin masih bisa tegar saat itu. Saat kami berpisah untuk terakhir kali. Tapi saat ini— semuanya benar-benar berakhir untuk selamanya. Tanpa sempat menatapnya untuk yang terakhir kali.”

Jari Kyuhyun Oppa semakin erat menggenggam jemariku, mencoba memberi kekuatan.

“Entah aku bisa memaafkan kalian atau tidak. Hanya waktu yang tahu.”

Aku bangkit dari duduk dan berlalu. Tanya yang hadir sejak surat Kyuhyun Oppa yang kuterima beberapa bulan lalu, kini terjawab sudah. Satu yang ada di kepalaku saat ini, berkemas dan pergi dari rumah ini besok.

****

Senja begitu hening. Angin yang berhembus perlahan dan mempermainkan ujung-ujung rambutku pun enggan mengganggu. Enam hari terakhir sejak aku kembali ke kota ini hingga tiga tahun kebelakang, ucapan Kyuhyun Oppa masih terus terngiang di telingaku.

“Begitu tabah ia melewati hari-harinya. Cuci darah tanpa sepengehtahuanmu. Kemoterapi setelah kau pergi. Sampai hari-hari terakhirnya, ia masih terus mengingatmu dan menganggap semua yang telah dilakukan adalah yang terbaik. Dia sudah merencanakan semuanya. Dia tak ingin melihatmu menderita, Sunny-ah.”

Sunny P.O.V end

****

 

Author P.O.V

Hari ini adalah hari ketiga Sunny memutuskan pergi tanpa pamit dari rumah Kyuhyun, dan menghilang untuk kedua kalinya. Tiga hari yang hanya Sunny habiskan untuk merenung di bibir pantai sambil memandangi langit senja yang kemerahan sampai malam menjelang. Ritual lama yang Sunny mulai dulu, ketika beban hidup mulai menghimpitnya atau ketika gundah… seperti sekarang.

Author P.O.V end

****

Sunny P.O.V

“Indah ya?”

“Eh, iya— Hmm, entah kenapa aku tak pernah bosan menatapnya.”

“Sama— aku senang memandangi senja dengan langit yang kemerahan.”

“Aku Sungmin.”

“Aku Lee Sun Kyu. Panggil saja aku Sunny.”

Bayangan itu begitu nyata. Perkenalan kami enam tahun yang lalu, saat duduk di pantai ini. Satu diantara sekian kenangan yang satu-persatu kembali hadir. Pun ketika itu ia melamarku di tahun kedua kebersamaan kami. Di saat kami melewati senja untuk kesekian kalinya.

“Sunny-ah, seandainya bisa, kan ku pindahkan sepotong senja untukmu,” ucapnya kemudian mengecup keningku.
“Maukah kau menemaniku melewati senja seumur hidupmu?”

Aku belum beranjak. Terjebak dalam pusaran waktu. Ada keengganan untuk berpisah dari semua ini.

“Ah, seandainya semua kau ungkap dari awal, Sungmin Oppa. Aku akan tinggal bersamamu, menemanimu melewati semuanya,” ucapku kemudian menyunggingkan senyum ketabahan.

Kini, tiga tahun telah berlalu sejak perpisahan itu. Kenangan yang selama ini berusaha ku lupakan masih tetap tersimpan di sudut hatiku.

Senja pun masih tetap sama, saat terakhir kali kami memandangnya. Sungguh sebuah suasana yang paling kami suka. Saling berbagi kisah di saat sang surya akan beranjak ke tempat peristirahatan.

“Sungmin Oppa, aku disini…” bisikku sembari menerawang menatap langit.

“Adakah senja tampak lebih indah di sana?”

Sepi. Itu yang kurasakan saat ini. Hanya sendiri menikmati senja di pantai yang menjadi saksi awal pertemuan dan juga perpisahan kami. Ada desir rindu di sini, di hatiku.

‘Selamanya senja akan tetap sama, saat aku mengingatmu Sungmin Oppa.’

-END-

 

 Apa ada yang nangis setelah baca FanFic ini? #Reader: gak adaaaaa!!!#

Jujur aku sedih baca FanFic ini. Sampai nangis juga sih, soalnya terlalu menghayati..hiks…

Oke deh aku gak akan banyak omong.

Tapi jangan lupa tinggalkan komentar kalian!! Be a Good Reader’s, OKEY!!

12 thoughts on “A Piece of Sunset Memories

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s