Undeniable Love (Oneshoot)

Title: Undeniable Love (Oneshoot)

Cast:

  • Choi Minho SHInee
  • Park Jiyeon T-ARA

Rating: PG-15

Genre: Romance

Summary: Dosaku terhapus dengan senyuman tulusnya yang membuatku berdebar…Saranghae…

Tetesan air terus membasahi tubuhku. Aku sadar, sudah berjam-jam aku terus berada di dalam ruangan ini. Pandangan kosong dan bibir yang  bergetar karena dingin. Aku tak menghiraukannya. Ini adalah kebiasaanku sejak dulu. Dan juga menangis, itu yang aku lakukan sekarang.

“Mau sampai kapan kau berada di dalam Jiyeon-ssi? Keluarlah, kau bisa sakit.” Suara itu. Aku sangat mengenalnya. Kuhela air mataku cepat kemudian bangkit dan memakai pakaian mandi.

“Sudah kubilang, jangan terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Aku sudah menyiapkan pakaianmu,” ucapnya lembut sembari mengeringkan rambutku dengan sebuah handuk.

Kutatap wajahnya yang bagai malaikat. Malaikat? Itulah julukan yang ku berikan untuknya.

“Cepat pakai pakaianmu. Setelah itu kita makan malam,” Ia kembali berkata kemudian menyunggingkan senyuman hangat.

“Kau menangis?” tanyanya. Raut wajahnya seketika berubah cemas,  ia melihat mataku yang memerah. Aku membuang pandang.

“Jiyeon-ah, kau menangis lagi? Sekarang ada apa lagi?” tanyanya lagi kemudian meraih daguku.

Sorot mata itu. Sebuah pandangan yang mampu membuatku terdiam. Aku tak dapat menjawabnya. Aku merasa dosaku terlalu besar untuk di akui.

“Sudahlah jika kau tak mau memberitahuku. Cepat ganti bajumu,” ucapnya lagi kemudian kembali tersenyum.

Setulus itu kah kau menyayangiku? Mengapa aku tak bisa?

***

“Aku sudah tak mencintaimu lagi.”

“Kenapa? Apa masalahnya?”

“Kau tak sadar hubungan yang kita jalani ini salah? Kau sudah menikah dan aku tak mau semakin menumpuk dosa.”

“Aku tak mencintainya. Kau tahu itu kan?”

“Tapi dia mencintaimu. Aku mohon, jangan seperti ini. Kau sudah mempunyai kehidupan baru dengannya. Jalanilah dengan perlahan. Aku yakin kau akan mencintainya, seperti perasaanmu padaku saat ini.”

“Aku tak bisa! Aku tak peduli dengan dosa! Apa dosa yang akan menyeretku ke dalam neraka? Aku tak takut!”

“Jiyeon-ah, semua ini salah. Maafkan aku. Kita harus berpisah.”

Bayangan itu kembali hadir di depan mataku. Perpisahanku dengan namja yang benar-benar aku cintai, Kim Kibum. Ia memutuskan hubungan kami yang telah berjalan tahun ke tiga. Sakit. Itu yang kurasakan. Dia takut dengan dosa. Semua ini salah! Aku sadar itu.

Tapi bisakah ini tak terjadi sekarang. Aku masih belum siap untuk menjalani kehidupan baru tanpa senyuman manisnya. Rasanya senyuman itu tak akan pernah terganti oleh yang lain.

“Aku hanya bisa membuat pasta. Tak apa kan hanya ini menu makan malam kita?” Suara itu lagi membuyarkan semua bayanganku tentang Kibum. Aku hanya mengangguk dengan lemah sebagai jawaban. Ia kembali tersenyum.

Duduk berhadapan seperti ini jarang sekali terjadi. Dia adalah suamiku, Choi Minho. Seorang suami yang telah tinggal bersamaku selama enam bulan. Waktu yang lama?  Ya. Tapi aku tak mencintainya.

Apa lagi alasannya? Semuanya karena perjodohan. Aku terlahir di keluarga berada, sama seperti dia. Perjanjian yang di buat orang tua kami, semenjak kami terlahir ke dunia. Menolak. Tak ada artinya. Mereka selalu memaksa.

Ia sukses di pekerjaannya, meneruskan perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang otomotif. Seorang pengusaha muda yang memiliki wajah tampan. Ia sempurna dalam segala hal.

Harusnya aku bangga bisa menjadi istrinya. Memamerkan kepada dunia bahwa dia adalah milikku. Tapi itu tak pernah terjadi hanya karena tiga kata ‘Aku-tak-mencintainya’.

“Kau melamun Jiyeon-ah, pastamu menjadi dingin.” Ia kembali menegurku. Aku selalu menjadi pendiam di hadapannya. Aku tak bisa mengeluarkan suaraku, bahkan untuk menyebut namanya.

“Kau tak suka?” tanyanya yang membuatku memakan pasta buatannya. Menghargai karyanya tak salah kan.

Ia diam dan suasana menjadi hening. Ini sudah terbiasa di antara kami jika hanya berdua. Sepertinya ia benar-benar menikmati makan malam ini. Itu wajar, karena ini adalah buatannya sendiri. Selama ini aku hanya menyiapkan sarapan dan untuk makan malam, aku lebih sering pergi bersama Kibum dan dia— entahlah, aku tak tahu.

Aku meletakkan garpu yang kugunakan untuk memakan pasta. Aku sudah kenyang. Kutatap ia yang sedang meneguk segelas air. Aku bangkit kemudian membawa piring kotor makan malam kami ke dalam dapur.

“Ah, Jiyeon-ssi biar aku saja yang bersihkan,” ucapnya kemudian mengambil piring kotor di tanganku. Aku hanya menatapnya sekilas kemudian beranjak pergi.

Seperti ini lah kehidupan kami. Aku tak peduli padanya, dan dia sebaliknya. Ia sangat memperhatikanku. Aku teringat kata-kata Kibum. Belajar mencintainya, apa aku bisa?

Kuhela nafas yang terasa sesak saat ini. Memandang kerlap-kerlip kota Seoul dari balkon kamar, rasanya benar-benar indah. Angin musim semi berhembus pelan memainkan ujung-ujung rambutku. Sejenak aku melupakan semua pikiran yang mengganggu akhir-akhir ini.

“Ternyata disini sangat indah.”

Kepalingkan pandangan ke sebelah kiriku. Minho berdiri di sampingku. Ia tersenyum dan menyodorkan sekaleng soda yang ia bawa. Aku mengambilnya kemudian langsung meneguknya, karena sebelumnya tutupnya telah di buka oleh Minho.

“Kau banyak masalah akhir-akhir ini?” tanyanya membuka pembicaraan diantara kami. Aku masih diam tak bersuara.

“Jiyeon-ssi, kenapa hubungan kita semakin menjauh? Rasanya jurang pemisah diantara kita semakin lebar. Apa kau tak suka jika aku selalu berada di dekatmu?” ucapannya langsung menohok dadaku. Sejahat itu kah aku selama ini? Ia menyadari ketidak pedulianku.
“Bicaralah Jiyeon-ssi. Beri aku jawaban,” pintanya lirih membuatku semakin merasa bersalah.

“Bukan begitu— aku hanya…” Suaraku tercekat, hanya itu yang mampu ku ucapkan. Kulihat Minho yang memandangiku meminta penjelasan.

“Aku hanya merasa kau adalah orang asing yang masuk ke kehidupanku,” ucapku pelan kemudian menunduk. Bodoh! Aku ingin menarik semua ucapanku. Ia bukan orang asing Jiyeon! Dia suami mu!

“Begitukah? Lalu bagaimana caranya agar aku tak menjadi orang asing lagi yang berada di sekitarmu?” tanyanya yang membuat mulutku terkunci. Aku bingung harus menjawab.

“Apa karena kau tak mencintaiku?”

Bingo! Itu jawabannya. Tapi mengapa yang terasa sekarang adalah sakit. Aku benar-benar berdosa karena menghianatinya. Menghianati janji kami yang akan selalu setia sehidup semati dan menemani di saat senang maupun duka. Menghianati semua yang telah menjadi saksi janji suci itu di depan Tuhan.

“Maaf.” Kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulutku.

“Aku paham dengan itu Jiyeon-ssi. Jangan merasa bersalah. Aku sadar bahwa selama ini kau sibuk dengan pekerjaanmu dan jarang berada di rumah. Itulah yang membuat kita semakin terasa jauh dan membuatku menjadi seorang yang asing di sekitarmu,” ucapnya semakin membuatku ingin mati sekarang.

Aku bukan pergi untuk bekerja, Minho-ssi. Tapi untuk berselingkuh. Menjalin hubungan yang tidak seharusnya di luar sana.

“Ini sudah terlalu malam. Angin malam tak baik untuk kesehatanmu. Ayo masuk,” titahnya membuatku menurut.

***

Kami tidur di atas ranjang yang sama selama enam bulan ini. Tapi dengan pembatas non permanen yang ia buat. Dua buah guling yang ia susun menjadi pembatas kami. Sekali pun, baik dia dan juga aku belum pernah melewati pembatas ini. Terlalu takut satu sama lain.

“Selamat tidur, Jiyeon-ssi.”

Kalimat itu yang selalu ku dengar sebelum berpetualang ke alam mimpi. Bahkan ketika aku sudah terlelap, kalimat itu pasti selalu terdengar.

“Ne,” ucapku pelan menjawab kalimat wajibnya itu. Jawaban yang baru pertama kali ku ucapkan. Entahlah, itu keluar dengan sendirinya.

Aku tak dapat menutup mataku. Insomnia menyerangku malam ini. Dari tadi kubalikkan badanku ke kanan dan ke kiri. Kulihat Minho telah terlelap sedari tadi. Lama ku pandangi lekuk wajahnya. Ia memang malaikat. Sempurna.

Jantungku! Kenapa ini? Ini bukan cinta kan? Aku tak jatuh cinta dengannya kan? Jiyeon kembali ke alam sadarmu sekarang juga.

Setelah berperang dengan perasaanku sendiri. Aku merasa lelah dan mataku semakin berat. Sepertinya alam mimpi telah menungguku untuk masuk ke dalam gerbangnya.

***

“Kau bangun pagi sekali. Apa ada rapat pagi ini?” ucap Minho yang baru saja keluar dari kamar. Ia telah rapi dengan busana kerjanya.

“Tidak. Bukankah ini sudah biasa kulakukan setiap pagi?” jawabku. Ada yang aneh padaku. Aku menjawab semua kalimatnya sejak semalam. Ada apa ini? Aku tak berubah!

“Aku tahu. Menu pagi ini apa?” ucapnya kemudian berjalan menuju meja makan.

Pagi ini aku memasak nasi tim dengan ayam grill. Menu sarapan simple, menurutku.

“Nasi tim?” tanyanya heran. Apa dia tak suka?

“Ne. Apa kau tak suka?” tanyaku sedikit cemas. Rasa kecewa terasa saat ini. Ia tak suka karyaku.

“Bukan begitu. Aku sangat suka nasi tim, hanya saja ini kali pertamanya kau memasak sarapan. Biasanya kau hanya menyiapkan segelas susu dan juga roti gandum,” jelasnya kemudian duduk di kursi meja makan.

Dadaku kembali tertohok mendengar ucapannya. Apa selama ini aku benar-benar sejahat itu? Bahkan gizi suamiku sendiri tak ku perhatikan. Maafkan aku Minho.

Aku menarik kursi yang berada di depannya. Kemudian mulai menikmati nasi tim buatanku. Kulihat Minho sangat lahap memakan masakanku. Ku kulum senyum dalam diam. Rasa bersalah tadi kini berubah menjadi bahagia. Rasa bahagia? Benarkah itu?

Aku tertunduk dan tersenyum sendiri. Debaran jantungku semakin kencang ketika kucuri pandang ke arah Minho. Ia masih menyantap sarapannya dengan lahap.

“Apa benar-benar nikmat masakanku?” tanyaku pelan. Ia menatapku kemudian tersenyum.

“Ne. Ini sangat-sangat enak,” jawabnya. Aku tersenyum lagi. Ia benar-benar yakin mengucapkan kalimat itu, berarti dia tak berbohong.

“Jiyeon-ssi, kau baik-baik saja?” tanyanya tiba-tiba. Senyumanku hilang seketika, berubah menjadi pandangan heran.

“Aku kenapa?” tunjukku pada diriku sendiri.

“Ah, senyuman itu. Aku sangat merindukannya,” ucapnya membuat darahku berdesir. Rasa ini lagi. Aku tak mencintainya kan?

“Aku suka senyumanmu,” lanjutnya lagi kemudian beranjak dari tempat duduknya. Aku masih terdiam di tempat. Berperang dengan detak jantungku yang semakin cepat.

“Jiyeon-ssi,” panggilnya membuatku menoleh. Aku tak sadar ia telah duduk di sampingku.

Ia memandangku dengan tatapan teduhnya. Aku mohon, jangan buat aku meleleh sekarang Minho-ssi. Kau tak tahu jantungku hampir lepas ketika menatapmu.

“Aku mohon tatap mataku,” ucapnya kemudian meraih daguku. Mata kami bertemu.

“Terlambatkah aku?” tanyanya kepadaku. Aku tak mengerti maksud dari kalimatnya.

“Apa maksudmu, Minho-ssi?” tanyaku. Ia menggenggam jemariku erat dan jantungku semakin berlomba.

“Telambatkah jika sekarang aku masuk ke dalam duniamu? Aku ingin melihat dunia indahmu itu dan menjadi yang pertama,” ucapnya membuatku tersentak kaget.

Rasa bersalah kembali menggantung di dalam kepalaku. Jahat! Aku wanita yang jahat! Aku berselingkuh di belakangnya.

Kurasakan mataku memanas dan setitik air jatuh. Aku menangis. Rasa bersalahku semakin besar dan dosaku tak akan bisa termaafkan.

“Jiyeon-ssi, kau menangis? Apa aku salah bicara? Maafkan aku— Maafkan aku,” Ia meminta maaf. Seharusnya bukan dia, tapi aku.

Tangisku semakin pecah dan isakannya semakin jelas terdengar. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan.

“Jiyeon-ssi, jangan seperti ini. Aku benar-benar minta maaf.” Kata maaf itu kembali di ulangnya.

“Kau tak salah,” jawabku lirih. Sisa air mataku masih mengalir keluar. Ia menghapusnya dengan lembut dan perlahan.

“Maafkan aku Minho-ssi. Aku benar-benar hina. Hukum aku sekarang juga!” pekikku kemudian memegang lengannya.

“Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti.

“Kau tak mau menghukumku? Aku telah menghianati janji setia sehidup semati kita di depan Tuhan. Aku telah melakukan dosa. Aku berselingkuh di belakangmu. Hukum aku Minho! Hukum aku!” teriakku semakin mengeratkan cengkraman di lengannya.

Ia terdiam, tak bersuara. Aku tahu ini yang akan terjadi. Aku memejamkan mata. Sebentar lagi sebuah tamparan akan mendarat di pipiku. Tamparan yang memang seharusnya di lakukan seorang suami kepada istrinya.

Satu…Dua…Tiga…Empat…

Aku terus menghitung kapan datangnya tamparan itu. Lama kutunggu, tapi tak juga terjadi. Aku telah mempersiapkan diriku untuk semuanya.

Ku buka mataku kemudian menatap Minho yang masih terdiam. Ia hanya menunduk memandang ke bawah.

“Minho-ssi…” panggilku pelan. Ia mengangkat kepalanya dan menatapku. Matanya merah dan bekas air mata masih basah di pipinya. Ia menangis karena aku? Rasanya hatiku teriris menjadi sekecil-kecilnya.

“Semuanya sudah terjadi Jiyeon-ssi. Awalnya kita memang tak saling cinta. Pernikahan ini salah. Akan ku urus surat cerai kita secepatnya,” ucapnya kemudian bangkit dari duduknya.

Bercerai? Ini semua karenamu Jiyeon! Bodoh! Aku tak mau dia pergi. Aku tak mau jauh darinya.

Aku yakin ini cinta. Aku mencintainya. Mencintai Choi Minho, suamiku.

“Jangan pergi,” cegahku memeluknya dari belakang. Ia berhenti melangkah dan memegang tanganku.

“Semuanya belum terlambat. Aku ingin memulainya dari awal. Aku mohon jangan pergi,” ucapku masih memeluknya. Ia masih membisu.

“Aku sudah mengakhiri semuanya dengannya. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu. Sangat mencintamu,” lanjutku lagi. Air mataku kembali mengalir. Jika dia masih menolakku, aku akan pergi jauh dari dunia ini.

“Kudengar kesungguhan dari ucapanmu. Aku tak akan meninggalkanmu, Nyonya Choi.”

Ia berbalik kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Tangisku semakin pecah. Ia mengelus rambutku lembut dan mengusap punggungku, berusaha menenangkan.

“Jangan menangis lagi. Kau tak bahagia dengan awal baru ini? Air matamu terlalu berharga untuk di buang,” ucapnya dengan suara lembut.

“Aku tahu semuanya akan menjadi seperti ini. Kau dan aku memang di takdirkan bersama untuk selamanya,” ucap Minho masih memelukku.

“Dari mana kau ambil kesimpulan itu Tuan Choi? Kita bersama karena perjodohan konyol itu,” ucapku menatapnya. Ia terkekeh kemudian mengacak rambutku pelan.

“Perjodohan yang membuatmu jatuh cinta padaku. Aku tahu itu Jiyeon-ah, sejak semalam pandanganmu berubah menjadi lebih hangat,” ucapnya membuat pipiku bersemu merah.

“Kau percaya selamanya kita akan selalu bersama? Itu garis takdir kita,” ucapnya kembali memelukku erat.

“Ya. Aku sangat percaya itu,” jawabku membalas pelukannya.

Kibum, sekarang senyumanku telah berganti dan selamanya tak akan kembali lagi. Karena sekarang dan selamanya senyuman yang akan menghiasi hari-hariku adalah milik seorang Choi Minho. Malaikatku yang sempurna.

Kau benar, jika di jalani rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Aku mencintainya sekarang. Dan dosaku telah terhapus dengan senyuman tulus Minho yang selalu membuatku berdebar. Aku berjanji tak akan berpaling darinya lagi.

“Jiyeon-ah, mulai sekarang jangan panggil aku dengan bahasa formal,” ucapnya meregangkan pelukan.

“Lalu aku harus memanggilmu apa?” tanyaku sembari menggandengnya duduk di sofa ruang santai.

“Yeobo. Kurasa itu panggilan wajib bagi pasangan suami istri,” ucapnya manis. Ah, aku malu di buatnya.

“Ne, Yeobo,” ucapku pelan. Ia tersenyum dan aku pun membalasnya.

“Yeobo-ah, ucapkan satu kalimat tentang perasaanmu sekarang,” ucapnya menatapku dalam.

Maksudnya perasaanku padanya? Bukankah tadi sudah? Jika di ulangi, aku bisa kehabisan nafas karena malu.

“Saranghae Yeobo-ya,” ucapku pelan. Jantungku selalu begini, berlomba keluar dari tempatnya.

“Nado saranghae. Kau tahu sekarang masih sangat pagi untuk pergi bekerja. Morning kiss, please,” pintanya manja.

Apa? Morning kiss? Dia gila! Aku tak bisa. Ah, maksudku tak terbiasa karena ini yang pertama.

Dia mendekat. Dekat dan mengunci jarak. Hembusan nafasnya hangat terasa. Kututup mataku untuk merasakan sapuan bibirnya. Lembut, sangat lembut. Aku tahu ia sangat hati-hati melakukannya. Berusaha meyakinkanku dan menyampaikan perasaannya.

Aku percaya. Selamanya akan percaya bahwa ia adalah yang terakhir disini. Di hatiku.

12 thoughts on “Undeniable Love (Oneshoot)

  1. kyaaaa bagusss T______T
    q pikir bkln sad ending *asah duit ma taemin*
    bahasnya rapi bngt…bkin q irii ^^..kkk

    awalnya q kira jiyeon itu depresi *efek the weddng blnd*
    makin d baca ternyata eh ternyata…
    huwaaa tw g sih saeng pas bagian jiyeon ngaku k minho kl dia selingkuh n nungguin tamparn dr minho q ud ngebatin “pasti dicium nih ma minho”
    eaa..tebakanku salah =_____=”

    tp rasnya kok keceptn yah endingnya…
    wkt minho bilng mau ngurus surat cerai q ud semngt 45 saking serunya tp kok cpet bngt baikannya..
    pngnnya impas gt balik jiyeon y ngejer2 minho…
    ah gpp deh y penting happy ending…
    btw ud jd ff taemin tuh ^_______^

    • Ahahaha..eonni ada-ada aja nih..

      depresi? emang Yoona di TWB?? ahahah..

      ya.. begitulah..
      ceritanya kan MInho juga cinta ma jiyeon, jadi pas mau bilang cerai itu dia cuma pura-pura aja. padahal seneng gitu istrinya juga udah cinta sama dia,.hehehe

      gomawo koment nya yah eonn ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s