Dear Dearest, MOM

Title: Dear Dearest, MOM (mother’s day fic)

Author: Kim Hyera

Cast: Lee Donghae- Super Junior

Rating: General

Genre: Family, Angst

Lenght: Oneshoot

SELAMAT HARI IBU UNTUK SEMUA IBU TERBAIK DI DUNIA.

 

***

Masih terasa hangat belaianmu…

Kecupanmu masih basah terasa…

Hembus nafasmu damai, tentram…

Sorot mata kelembutan terus terpancar…

Memberi seulas senyum yang menyinari dunia…

Tak pernah hilang…

Tak akan pupus…

 

***

Tatapan itu telah berganti. Pelukan itu serasa hilang tak mendekapku lagi. Ku pandang hening sosok yang terbaring lemah di aras ranjang. Dadanya naik turun teratur dengan nafas yang berhembus pelan.

Lama kupandang, sosok itu tetap tenang dalam dunia mimpinya. Tak tahan hanya melihat, ku belai lembut wajahnya yang semakin keriput tanda menua.

Ibu. Air mata ini kembali jatuh untuk kesekian kalinya. Sesak terasa dada ini hanya karenanya. Menangis dan menangis itu yang terus kulakukan. Kugenggam erat tangannya. Dingin, itu yang kurasa.

Air mata ini semakin deras mengalir. Isakan pun ikut melengkapi. Inilah aku, selalu rapuh jika di depan Ibu.

“Donghae-ah, kau disini nak?”

Suara itu membuatku tersentak. Suara Ibu yang terbangun karena air mataku yang membasahi tangan halusnya.

“Kau menangis, sayang? Ada apa?” Tanya suara lembutnya membuatku semakin terisak. Kucoba keluarkan suara yang tercekat di tenggorokan.

“Aku baik-baik saja, Bu. Tadi ada debu yang masuk ke mataku.” Jawaban klise yang ku ucap, tak mampu membuatnya percaya.

“Jangan berbohong. Ceritakan pada Ibu, Apa masalahmu?” tanyanya lagi.

Hantaman kuat terasa di dada. Apakah aku harus mengeluarkan kebohongan lagi? Dosaku terlalu banyak untuk di hapus seiring berjalannya waktu. Berbohong. Itu lah yang terbaik.

“Aku tak berbohong, Bu. Debu itu terlalu besar dan membuatku menangis karena perihnya,” jawabku dengan parau.

Tangan lembutnya yang sedari tadi ku genggam, kini membelai kepalaku. Mengusapnya lembut dan menyisir rambutku. Kupejamkan mataku. Merasakan belaian Ibu yang selalu menjadi candu.

Lama kurasakan hingga belaian itu berhenti. Erangan kesakitan yang kini terdengar dan seketika membuat tubuhku menegang. Kembali suara itu yang ia keluarkan. Ibu menggenggam lenganku erat dan nafasnya yang teratur. Dengan cepat kuraih telepon yang ada di nakas sebelah ranjang tempat dimana selama ini Ibu terbaring lemah.

“Dokter, penyakitnya kambuh!! Cepat kesini!!” ucapku cepat dan berteriak.

Aku kembali menatap Ibu yang masih meringis sakit. Mata indahnya mengeluarkan cairan bening yang membentuk sungai kecil. Aku mengusap tangan Ibu lembut dan mengucapkan kalimat yang kuharap bisa membuatnya tenang.

“Hae, ini benar-benar sakit. Ibu sudah tidak kuat,” ucap Ibu dengan isakannya.

Dadaku terasa sesak melihat Ibu yang menangis dan memegangi dadanya. Aku hanya bisa menenangkannya dengan caraku meskipun aku tahu itu tak dapat mengurangi rasa sakit yang Ibu rasakan saat ini.

Tak lama pintu kamar ini terbuka dan masuklah seorang dokter dengan beberapa suster di belakangnya. Dengan cepat mereka memeriksa keadaan ibu. Ini sudah sering terjadi dan aku semakin tak kuat jika melihat Ibu yang merintih sakit dengan suaranya yang serak dan nafasnya yang terputus-putus.

Aku melangkah keluar kamar rawat Ibu dengan dada yang masih sesak. Kini suara Ibu sudah tak terdengar lagi. Namun cengkraman kuat Ibu masih terasa di lenganku. Sesakit itukah rasanya? Ibu, aku harus bagaimana?

***

 

“Dokter jadi apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.

“Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi penyakit ini sudah memasuki tahap krisis blast,” jawab dokter itu. Aku masih tak puas dengan jawabannya.

“Apa tak ada cara lain yang dapat kita lakukan? Pasti ada kan?” tanyaku lagi. Kulihat dokter itu mendesah panjang.

“Maafkan saya Tuan Lee. Tapi penyakit Ibu anda sudah bersarang selama satu tahun dan sekarang adalah tahap yang paling akhir dan berbahaya, juga dengan penyakit sesak nafasnya yang semakin memperburuk keadaannya. Saya tidak akan lepas tangan begitu saja. Penurunan sel darah putihnya dapat di turunkan sebanyak 50.000 mikroliter, tapi itu tak dapat membunuh semua sel leukemik. Kami semua tim medis akan melakukan yang terbaik untuk Ibu anda,” jelas dokter itu panjang. Aku tertegun mendengarnya.

“Jadi Ibuku tak dapat di sembuhkan? Jadi Ibuku akan mati?” tanyaku dengan nada meninggi.

“Penyakit ini termasuk ke dalam salah satu yang berbahaya. Angka harapan hidup dalam masa krisis blast hanya mencapai 2 tahun atau lebih cepat dari perkiraan,” ucap dokter itu lagi.

“Aku yakin pasti ada cara untuk menyembuhkannya. Aku mohon lakukan apa saja untuk kesembuhan Ibuku.” Aku menatapnya dengan tatapan memohon.

“Memang ada tapi kita tak bisa berharap besar pada cara ini. Dan anda harus ingat bahwa ini sudah masuk ke masa krisis blast, cara ini benar-benar rawan. Operasi pencangkokan sum-sum tulang belakang adalah pilihan terakhirnya, Tuan Lee,” ucap dokter itu dengan serius.

“Lakukan dan buat Ibuku sembuh,” ucapku dengan penuh harap. Dokter itu memandangku dengan tatapan sangsi. Aku tahu ini berbahaya, tapi aku yakin semuanya akan berjalan lancar.

***

Aku keluar dari ruangan dokter dan berjalan menuju kamar rawat Ibu. Aku membuka pintu berwarna putih gading itu dengan gerakan pelan. Aku tahu Ibu sedang istirahat. Ia cepat lelah dan keadaannya semakin lemah.

Aku berdiri di samping ranjangnya. Ku genggam tangan halusnya dan mengecupnya lembut. Setitik air keluar dari mataku. Aku menangis lagi di hadapan Ibu. Aku benar-benar tak tahan jika terus melihatnya terbaring lemah seperti ini.

Awalnya Ibu adalah seorang yang sangat kuat dalam menjalani hidup. Ia membesarkanku dan juga kakakku dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang yang tak terhingga. Bahkan ketika Ayah pergi meninggalkan kami, ia dengan tegar berkata bahwa semuanya telah di atur Tuhan. Garis takdir yang membawa Ayah ke surga sana.

Aku meneruskan cita-citaku menjadi seorang penyanyi dengan dukungan Ibu. Sering kali aku menangis jika mengingatnya yang sering merasa kesepian di rumah. Tapi aku tak dapat berbuat banyak. Pekerjaanku menjadi seorang terkenal membuatku memiliki segudang kegiatan yang telah tersusun dengan rapi.

Sampai saat aku mendapat libur beberapa hari dan aku pulang untuk mengunjunginya. Harapanku adalah mendapat sambutannya di depan pintu masuk. Namun itu tak ia lakukan. Aku melihatnya duduk di kursi ruang tamu dengan senyuman yang masih dapat ku lihat dengan jelas.

Kucium tangannya lama dan memeluk tubuhnya. Pelukan yang selalu ia berikan saat menenangkanku. Ku pandangi wajah cantiknya yang selalu memancarkan cahaya terang. Tapi cahaya itu sedikit redup dengan pucat yang menghiasi bibir dan juga pipinya. Ku belai wajahnya lembut dan ia tersenyum menenangkanku.

“Ibu baik-baik saja.” Itulah kalimat yang ia ucapkan.

Ibu tak mau melihatku khawatir. Aku tahu ia berbohong. Matanya berbicara dan itu membutaku semakin gusar.

“Besok kita ke dokter ya, Bu. Ibu tampak tak baik-baik saja,” ucapku di balas dengan senyuman hangatnya. Ia tak menolak melainkan memelukku erat.

Esoknya aku membawa Ibu ke rumah sakit di kota yang menjadi tempat tinggalku, Seoul. Ibu melakukan pengecekan darah karena keluhannya yang sering sekali cepat lelah dan juga berkeringat di malam hari.

Aku menunggu hasil pemeriksaannya dengan di temani belaian lembut Ibu di puncak kepalaku. Aku menikmati semuanya sampai belaian itu berhenti dan seorang dokter keluar dengan sebuah kertas di tangannya. Aku membaca tulisan di kertas itu dan degup jantungku menjadi kencang.

Leukimia Mielositik Kronis

Adalah penyakit berbahaya dimana sebuah sel di dalam sum-sum tulang berubah menjadi ganas menghasilkan sel darah putih yang abnormal. Penyakit berbahaya ini telah bersarang di tubuh Ibu selama setahun dan hampir masuk dalam masa krisis.

Ibu harus di rawat di rumah sakit. Dan Ibu selalu bilang padaku bahwa ia baik-baik saja. Meskipun beliau tahu tentang penyakitnya. Ia masih bisa tersenyum walau semakin hari wajahnya semakin pucat. Hingga sekarang rumah sakit telah menjadi tempat berteduh Ibu. Di kamar rawatnya ia selalu menunggu kedatanganku. Menyambutku dengan pelukan hangat.

Air mataku semakin deras dan dadaku semakin sesak. Aku merasa berdosa jika mengingat jadwal konserku yang selalu padat. Aku tak dapat mengunjungi Ibu setiap hari. Beliau selalu bilang bahwa ia baik-baik saja walaupun kesepian di kamar rawatnya.

“Ibu maafkan aku,” ucapku mengecup punggung tangannya dengan mata basah.

“Maaf Bu, aku harus pulang. Pekerjaanku selalu menyita waktu kita berdua. Tapi aku janji akan datang lagi jika semuanya telah selesai,” ucapku dengan serak dan berjalan meninggalkan sosok Ibu yang masih tertidur pulas.

***

 

Hari ini aku memutuskan kembali menjenguk Ibu. Jadwalku sedikit longgar dan hari ini dokter ingin bertemu denganku. Sebuah pertemuan rutin yang selalu aku lakukan jika Ibu selesai di periksa.

“Ibu aku datang,” ucapku dengan nada riang dan masuk ke dalam kamar rawatnya.

Ia menoleh ke arahku dan menyunggingkan senyuman manisnya. Senyuman yang selalu menyambutku.

“Kau tak kerja?” tanyanya di jawab dengan gelengan olehku.

“Kenapa?” tanyanya lagi.

“Jadwalku tak sepadat kemarin. Hari ini dokter ingin bertemu denganku,” jawabku.

“Tentang kesehatanku? Aku baik-baik saja, Hae. Kau tak perlu khawatir,” ucapnya kemudian mengelus rambutku.

“Ya. Aku tahu Ibu baik-baik saja. Sebentar lagi Ibu akan sembuh dengan operasi pencangkokan itu,” ucapku kemudian mencium pipi Ibu. “Aku ke ruangan dokter dulu, Bu. Hanya sebentar,” lanjutku dan ia mengangguk.

Aku terus melangkah ke sebuah ruangan yang sangat aku hapal. Mengetuk pintunya beberapa kali kemudian masuk.

“Silahkan duduk Tuan Lee,” ucap dokter itu dengan wajah ramahnya. Aku duduk di hadapannya dan melihatnya mengeluarkan sebuah foto ronsen dan menyodorkannya ke arahku.

“Ini hasil pemeriksaan terakhir kali. Sel darah putihnya semakin banyak,” ucapnya membuatku menatapnya.

“Tapi kita akan tetap melakukan operasi itu kan?” tanyaku membuatnya mendesah.

“Resiko nya terlalu besar, Tuan Lee. Tapi kami akan mencobanya. Berdoa lah untuk hasil yang terbaik,” jawabnya.

“Lakukan secepatnya,” perintahku.

“Kami akan menjalankan operasi itu jika keadaannya sedikit membaik. Demam yang Ibu anda alami belum juga turun. Dan juga penyakit sesak nafasnya yang sering kali kambuh, Tuan Lee. Saya harap anda dapat bersabar,” ucap dokter itu.

Aku mengambil foto ronsen itu kemudian melangkah keluar dari ruangan itu. Haruskan penundaan ini di lakukan? Apa Ibu masih bisa bertahan?

***

 

“Bu, sebentar lagi operasi pencangkokannya akan di lakukan. Ibu harus bertahan. Aku akan selalu berada di samping Ibu,” ucapku saat duduk di sampingnya setelah dari ruangan dokter tadi. Ku pandang manik mata Ibu yang kini mengeluarkan air mata.

“Terima kasih untuk semuanya. Ibu sangat bersyukur memiliki mu di dunia ini. Terima kasih Hae,” ucap Ibu memandangku lembut.

Ibu merentangkan kedua tangannya, menyuruhku masuk ke dalam pelukannya. Aku masuk kedalam pelukan hangatnya itu dan merasakan Ibu mendekap tubuhku erat. Dapat ku dengar detak jantungnya yang cepat.

“Jika esok hari mata Ibu terpejam. Jantung Ibu tak berdetak lagi. Dan nafas Ibu tak dapat kau rasa. Tetaplah menjadi seorang anak yang baik. Jadilah seorang yang selalu Ibu banggakan,” ucap Ibu membuat tangisku pecah.

“Jika esok hari pelukan ini menghilang. Belaian Ibu tak dapat kau rasa lagi. Tetaplah menjadi seorang yang kuat. Kau tahu, memilikimu adalah anugerah terindah yang pernah Ibu miliki. Kau adalah anugerah yang dititipkan Tuhan untukku,” lanjut Ibu membuatku semakin memeluk tubuhnya semakin erat.

“Jika esok senyuman Ibu menghilang. Jangan menangis dan merasa kehilangan. Ibu akan selalu tersenyum meskipun kau tak dapat melihatnya. Kau tahu, semua yang kau lakukan ini adalah yang terbaik. Ibu selalu baik-baik saja. Perlu kau ingat bahwa Ibu baik-baik saja,” ucap Ibu mencium puncak kepalaku.

“Lanjutkan lah cita-cita mu. Kau harus menjadi seorang yang sukses. Teruslah tersenyum meskipun sebenarnya kau bersedih. Tetap jadilah kebanggaan Ibu untuk selamanya.”

Aku meraung di dalam pelukannya. Meluapkan segala emosiku dengan tangisan. Ibu masih terus membelai kepalaku dan terisak pelan. Kata-katanya tadi seolah ini menjadi yang terakhir untuk ku dapatkan. Aku tak dapat berbicara dan kurasa belaian Ibu berhenti.

Aku tak dapat merasakannya lagi. Belaian lembut itu menghilang dan pelukan ini meregang. Ibu terkulai lemah di depan mataku. Ku pegang pergelangan tangannya. Merasakan denyut nadi nya dan semuanya tak terasa. Ibu telah tiada.

Aku semakin menangis di hadapannya. Ku tempelkan telapak tangannya yang di dingin ke pipiku mencoba merasakan belaiannya. Ibu telah pergi untuk selamanya. Bahkan sebelum operasi itu di lakukan.

Aku terus menangis di depan jasadnya yang kini akan di masukkan ke liang kubur. Ingin rasanya aku menarik tubuh Ibu yang terbaring lemah ke dalam dekapanku lagi. Tangisku semakin kencang dan di sebelahku berdiri Leeteuk Hyung yang sedari tadi mengelus punggungku. Ia juga menangis sama sepertiku.

Aku mengelus nisan Ibu dengan perlahan. Ingatanku melayang ke semua kenangan yang  membekas secara permanen di kepalaku tentang Ibu.

***

 

Saat aku kecil Ibu selalu merawatku dengan kasih sayangnya. Menyuapiku makanan agar aku tumbuh sehat. Kadang kala aku memuntahkan itu semua dan menangis. Aku hanya bisa merepotkan Ibu.

Tapi apakah Ibu pernah marah ketika aku melakukan itu?

Tidak. Itu lah jawabannya.

 

Saat aku semakin bertambah besar. Aku mencoba untuk bermain keluar rumah meskipun Ibu selalu melarang. Saat aku menghilang dari pandangannya, ia mulai cemas dan mengkhawatirkan ku.

Marahkah Ibu saat aku melanggar nasihatnya?

Tidak. Itu lah jawabannya. Saat aku pulang dengan baju kotor penuh lumpur, Ibu memelukku erat dan bersyukur bahwa aku baik-baik saja.

 

Umurku menginjak 4 tahun. Dan saat itu aku selalu kabur dari rumah untuk bermain di luar.

Aku bosan! Setiap hari hanya bermain robot. Sedangkan kakak dengan bebasnya berkeliaran di luar. Aku ingin seperti kakak. Aku berbohong pada Ibu bahwa aku pergi untuk bermain bersama kakak di taman. Ibu selalu mengangguk paham.

Pernahkan Ibu marah ketika aku membohonginya?

Ibu maafkan aku…

 

 

Aku masuk sekolah. Hari sekolah pertama aku sangat senang karena bertemu dengan teman baru. Aku pergi sekolah bersama Ibu. Tapi saat pulang sekolah, Ibu meninggalkanku sendiri. Aku menangis karena takut.

Hari semakin sore dan aku masih duduk di taman sekolah. Aku takut untuk pulang sendiri. Dan saat itu pula ku lihat sosok Ibu yang berlari ke arahku. Ia memelukku erat dan mengusap kepalaku sayang.

“Maafkan Ibu karena meninggalkanmu sendiri. Ibu minta maaf,” ucap Ibu menangis di pelukanku.

Ibu mengucapkan kata maaf dan terus mengusap kepalaku pelan. Bahkan aku belum pernah mengucapkan kata maaf untuknya.

Oh Ibu…

 

 

Siang itu aku pulang sekolah sendiri. Ibu berpesan bahwa ia sedikit sibuk dengan pekerjaan rumah. Oleh karena itu ia tak bisa datang untuk menjemputku sekolah. Aku bosan jika harus berjalan sendiri. Sebuah ide muncul di kepalaku. Aku masuk ke dalam pintu pagar rumah tetangga dan memencet bel nya. Saat pintu itu terbuka aku hendak kabur tapi tetanggaku itu menangkapku. Aku di pukul dan aku menangis.

Aku pulang dengan mata basah dan berlari ke pelukan Ibu. Aku menceritakan kejadian tadi dan Ibu tertawa.

“Kau yang nakal. Jangan ulangi lagi,” ucap Ibu kemudian tersenyum. Aku cemberut dan pergi dari pelukannya. Aku kesal, karena Ibu tak mengucapkan kalimat untuk membalas perbuatan tetangggaku itu.

“Aku benci Ibu!” pekikku kemudian membanting pintu kamar dengan keras. Ku dengar suara Ibu yang memanggilku berulang-ulang.

Benci? Dosakah aku mengucapkan kata itu? Maafkan aku Ibu…

 

 

Aku semakin bertambah dewasa dan menjadi murid di SD terkenal di Makpo. Aku tumbuh lebih tinggi dari teman-temanku. Oleh karena itu aku sering sekali marah dengan ledekan mereka. Aku sering berkelahi dan pulang dengan muka lebam.

Ibu selalu berlari ke arahku dengan wajah cemas nya.

“Kau berkelahi lagi? Kenapa kau selalu seperti ini, Hae?” tanya Ibu mengusap wajahku.

“Jangan ganggu aku dulu, Bu. Aku lelah,” ucapku acuh dan meninggalkan Ibu.

Ibu memandangku dengan matanya yang berkaca-kaca.

 

 

Aku kembali pulang dengan wajah yang lebam. Sekali lagi aku berkelahi dengan temanku. Aku pulang dengan hati kesal. Mereka mengejekku karena masih sering bergelayut manja di lengan Ibu.

Kembali Ibu berlari menyambutku di depan pintu.

“Hae, berhenti berkelahi seperti ini. Kau akan sakit, nak,” ucap Ibu membelai lukaku pelan.

Aku meringis dan menatapnya tajam. Aku malu jika terus di manja seperti ini.

“Jangan memanjakanku lagi, Bu. Aku sudah besar,” ucapku kemudian berlalu.

Sejak saat itu aku selalu menjaga jarak dengan Ibu. Hanya karena malu selalu di ejek oleh teman-temanku. Namun sikap Ibu tak pernah berubah. Ibu selalu memperhatikanku dan memberi kasih sayangnya.

Sakitkah hati Ibu saat ini? Maafkan aku Bu…

 

 

 

Aku terus saja asik dengan PSP baru dari Ayah. Ini adalah hadiah untukku karena bisa masuk ke SMP favorit di Makpo. Aku tak ingat makan dan juga semuanya. Aku terlalu asik dengan mainan baruku.

“Hae, makan dulu. Kau sudah terlalu lama bermain dengan mainanmu itu,” ucap Ibu dan masuk ke kamarku dengan nampan makanan di tangannya. Aku hanya menatapnya sekilas dan mengacuhkan ucapannya.

“Donghae, ayo makan dulu nak,” ucap Ibu kemudian menyodorkan sesuap nasi ke arah mulutku.

Aku menatapnya kesal dan menepis sendok itu. Ibu tersentak kaget karena ulahku.

“DONGHAE! APA YANG KAU LAKUKAN?” bentak Ibu marah. Saat itu aku terkejut melihat mata Ibu yang berkilat garang.

Baru pertama kali Ibu membentakku. Baru kali itu Ibu marah padaku.

Air mataku keluar dengan berlomba. Aku menangis karena takut oleh Ibu.

Ku kira Ibu akan memukulku karena selalu membantahnya. Namun tidak, Ibu membawaku ke dalam pelukannya. Mengusap punggungku dan mencium puncak kepalaku.

“Maafkan Ibu. Maafkan Ibu karena membuatmu terkejut. Ssttt… jangan menangis lagi ya.” Itu lah yang Ibu ucapkan.

Kata maaf yang seharusnya keluar dari bibirku namun tak pernah ku sebut. Ibu terus memelukku hingga tangisku reda.

Ibu aku menyayangimu…

 

 

“Yah, aku ingin menjadi seorang penyanyi,” ucapku ketika sedang berkumpul bersama. Ayah mengangguk setuju begitu pula dengan Ibu.

Aku masuk kedalam pelukan Ibu dan Ayah. Mereka mengusap kepalaku sayang dan juga mengecupnya.

“Jadi lah seorang yang selalu membuat kami bangga.” Pesan Ayah dan juga Ibu saat itu.

 

 

 

Aku menjalankan masa traine di salah satu agensi ternama di kota Seoul. Aku pergi meninggalkan kampung halamanku dengan cita-cita menjadi seorang penyanyi sukses.

Masa traine bukanlah suatu yang gampang. Aku harus berlatih keras dalam vokal dan juga dance. Aku tak banyak mempunyai teman disini. Aku kesepian dan aku merindukan dekapan Ibu.

Ibu, aku merindukanmu…

 

 

Aku menjalani masa traine selama 6 tahun. Dan selama itu juga aku tak pernah pulang ke rumah. Sampai saat gaji pertamaku keluar dan aku berteriak senang. Jerih payahku selama ini berbuah manis. Aku langsung membeli tiket kereta untuk pulang ke rumahku. Ayah dan Ibu pasti bangga padaku.

Aku memasuki rumah dengan hati gembira. Aku tak sabar melihat wajah terkejut Ibu dan juga Ayah.

Saat aku berdiri di ambang pintu depan, kulihat Ibu yang menangis dengan di peluk kakak ku. Segera aku menghampirinya dan juga ikut memeluknya.

“Ayahmu telah pergi Hae,” ucap Ibu dengan isakan tangisnya. Saat itu aku ikut menangis di pelukan Ibu. Semalaman kami merenung dan menangis bersama.

Bu, sesungguhnya aku sedih karena air mata mu yang terus saja keluar. Aku sedih jika kau menangis, Bu.

Ibu, aku mencintaimu…

 

 

Sehari sebelum kepulanganku ke Seoul, aku tak mau jauh dari Ibu. Ada rasa takut untuk kehilangannya. Cukup sudah aku di tinggal ayah. Aku tak mau Ibu juga meniggalkanku.

Aku teringat dosaku selama ini kepada Ibu. Saat aku berbohong. Saat aku marah. Saat aku menangis. Ibu selalu sabar dan tetap menyayangiku.

“Ibu, apakah kau membenciku?” tanyaku di dalam pelukannya.

“Mengapa kau bertanya seperti itu? Ibu tak mungkin membenci harta berharga dalam hidup Ibu. Ibu sangat menyayangimu dan juga mencintaimu. Ibu tak pernah membencimu. Sedikitpun tak pernah,” ucap Ibu dengan suara lembutnya.

“Maafkan semua kesalahanku selama ini, Bu. Aku terlalu banyak berbuat dosa. Maafkan aku, Bu,“ ucapku membuat Ibu menangis. Akhirnya kata maaf itu ku ucapkan. Meskipun itu membuat Ibu menangis dan sedih.

 

 

Aku berkerja dengan keras bersama 12 saudaraku di Super Junior. Mereka yang selalu menjadi penyemangatku di saat aku jatuh dan juga sakit. Walaupun selama ini mereka yang selalu bersamaku, rasa rinduku kepada Ibu terus saja bertambah dan menumpuk. Aku terlalu lama meninggalkannya. Apakah Ibu baik-baik saja?

Kuharap begitu.

 

 

Aku pulang dengan perasaan riang, sama seperti kepulangan pertamaku dulu di saat ayah pergi meninggalkan ku untuk selamaya. Aku harap kepulanganku ini tak berbuah tangisan seperti dulu. Aku berharap Ibu yang menyambutku di depan pintu dengan senyuman manisnya.

Namun ketika aku sampai, kulihat Ibu duduk di kursi ruang tamu. Aku tahu ia pasti menungguku. Kucium tangannya lama dan memeluk tubuhnya. Pelukan yang selalu ia berikan saat menenangkanku. Ku pandangi wajah cantiknya yang selalu memancarkan cahaya terang. Tapi cahaya itu sedikit redup dengan pucat yang menghiasi bibir dan juga pipinya. Ku belai wajahnya lembut dan ia tersenyum menenangkanku.

“Ibu baik-baik saja.” Itulah kalimat yang ia ucapkan.

Ibu tak mau melihatku khawatir. Aku tahu ia berbohong. Matanya berbicara dan itu membutaku semakin gusar.

“Besok kita ke dokter ya, Bu. Ibu tampak tak baik-baik saja,” ucapku di balas dengan senyuman hangatnya. Ia tak menolak melainkan memelukku erat.

Aku membawa Ibu ke salah satu rumah sakit besar di Seoul. Ibu melakukan tes darah karena keluhannya yang sering cepat lelah dan juga berkeringat saat malam. Aku menunggu hasil pemeriksaan Ibu di temani belaian sayangnya.

Saat dokter keluar dengan membawa kertas hasil pemeriksaan. Seketika tubuhku menegang. Selama ini Ibu tak baik-baik saja. Sebuah penyakit berbahaya menggerogoti tubuhnya. Leukimia Mielositik Kronis, itulah nama penyakitnya.

Sejak saat itu Ibu di rawat di rumah sakit. Keadaannya semakin lemah. Aku selalu menangis ketika di hadapannya. Berbulan-bulan berlalu, penyakit itu tak bisa di sembuhkan. Aku mengetahuinya terlalu lama. Ini semua salahku karena terlalu sibuk dengan jadwal.

Ibu…Maafkan anakmu ini…

Dan pada hari itu. Ibu memelukku erat, seolah itu adalah pelukannya yang terakhir kali dapat ku rasakan. Ia mengucapkan kata-kata yang membuatku menangis di dalam pelukan hangatnya.

 

 

Semakin lama pelukannya meregang dan kulihat Ibu terkulai lemah di hadapanku. Aku semakin menangis ketika sosok itu tak mengeluarkan nafas hangatnya. Aku menangis saat pemakamannya. Ibu telah pergi. Malaikat ku telah pergi…

 

 

Aku masih menangis di depan makam Ibu yang tanahnya masih basah. Menagis karena belum bisa menjadi seorang yang dapat ia banggakan. Isakanku semakin jelas terdengar di bawah langit jingga yang kemerahan seperti ikut berduka karena Ibu yang telah tiada.

“Ibu, ini aku anakmu. Bu, aku masih ingat kata-kata Ibu yang tak pernah membenciku, kau membalasnya dengan kasih dan juga cinta yang tulus untukku. Aku masih ingat belaian Ibu di kepalaku. Aku masih merasa pelukan Ibu pada tubuhku. Ibu tahu? Pelukan Ibu adalah yang paling hangat dan selamanya akan tetap sama. Ibu, aku merasa lemah jika tak ada dirimu di sampingku. Semuanya terasa hampa tanpa ada sosokmu yang menjadi penyemangatku selama ini.”

“Ibu, sudah beribu-ribu kali aku mengucapkan kata maaf. Tapi rasanya dosaku terlalu banyak untuk di maafkan. Aku sangat bersyukur telah di lahirkan di dunia ini dan berstatus sebagai anakmu. Kau selalu menyayangiku dengan segenap jiwa ragamu. Meskipun aku sering membuatmu menangis. Maafkan aku Ibu. Kata maaf tak akan pernah bosan aku ucapkan untukmu.”

“Ibu,  aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Kau adalah wanita yang paling sempurna di dunia ini. Kau adalah yang terbaik di dunia ini. Di hidupku, kau lah satu-satu nya yang selalu bisa membuatku bangkit dan tersenyum. Kau adalah malaikatku. Dulu, aku memang tak pernah merasa syukur atas kasih sayangmu. Namun sekarang, aku sadar bahwa semua yang telah kau berikan padaku adalah yang terbaik.”

“Bu, aku akan terus tersenyum seperti nasihatmu saat itu. Aku akan terus tersenyum meskipun sedih dalam diriku terus saja bertambah. Aku akan selalu mengingat pesanmu, Bu. Semuanya yang telah kau berikan padaku akan selalu ku ingat. Aku bahagia karena selama ini doa mu selalu menyertaiku. Doa mu yang membuatku tenang. Doa mu yang sekarang bisa membuatku tersenyum. Aku mencintaimu, Ibu. Aku menyayangimu, Ibu. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan untukku. Terima kasih, Ibu.

 

***

 

Ibu…

Ku panggil namamu di setiap hembus nafasku…

Tangan lembutmu senantiasa menggenggam jemari tanganku…

Memberi kehangatan damai, tenang…

Matamu sarat akan kasih sayang…

Kasih sayang yang tak lekang oleh waktu…

 

Dosakah jika aku membuatmu menangis?

Dosakah jika selama ini kubuat kau terluka…

Air mata itu tak berhenti keluar dari mata indahmu…

Ulahku, semua kesalahanku…

 

Bencikah kau padaku?

Belaian sayang yang selalu kau berikan untukku…

Masih pantaskah aku dapatkan?

Setelah semua kesalahanku belum termaafkan…

 

Ibu…

Kata Maaf  tak pernah bosan selalu ku ucap…

Sebuah kata yang ku harap dapat menghapus semua dosa…

Namun tak sebanding dengan segenap cinta yang kau beri…

Cinta yang selamanya akan kekal abadi…

 

Ibu…

Tak ada yang  mampu menggantikanmu…

Disini…

Di hatiku…

Kau adalah yang terbaik…

Kau adalah yang terhebat…

 

Ibu…

Do’a tulus selalu kupanjatkan…

Untukmu selamanya…

Terima kasih Ibu…

Aku menyayangimu…

Aku mencintaimu…

Sangat mencintaimu…

THE END

 

 

 

Bagaimana? Geje kah?

Saya bikin fic ini hanya untuk renungan. Maaf jika karya saya ini jelek dan genre Angst nya gak dapet…

Tapi saya sudah dengan susah payah membuat ff ini, meskipun beberapa part saya ambil dari ff Thank You Mom karya Noriko Koain…makasih yah eonni untuk izin copas nya ^^..

Oh, iya tokoh Donghae disini sengaja saya pakai karena dia sering banget nangis kalo ingat sama keluarganya. Jadi bisa di bilang tipe penyayang keluarga *tipe aku banget#PLAKK! pas aja untuk fic spesial hari ibu ini…

Saya mau hiatus dulu nih dari dunia ff, Cuma semi hiatus kok jadi aku masih ngelanjutin ff The Wedding Blind😀

Saya tunggu komentar dari kalian semua!! BE A GOOD READER’S!!

 

Credit: www.norikokoain.wordpress.com Thank You Mom.

Mediacastore.com

 

 

 

 

 

 

5 thoughts on “Dear Dearest, MOM

  1. terharu baca ny
    sdih
    merenungi kslahan kta kpd sosok seorang ibu
    kasih syang yg tak prnah pudar

    #curcol

    crta ny bgus🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s