My Beautiful Servant (Part 1)

Title: My Beautiful Servant (Part 1)

Author: Kim Hyera

Rating: General

Main Cast:

  • Choi Siwon
  • Im Yoona
  • Cho Kyuhyun

Support Cast: Jung Family, Choi Family

Genre: Romance, Family

Lenght: Chapter

Treaser

***

Hidup sebatang kara bukanlah sebuah keinginan bagi semua manusia. Di mana seorang manusia terlahir memiliki sifat sosial, saling membutuhkan satu dengan yang lain. Setiap manusia pasti ingin memiliki sebuah keluarga yang bahagia. Saling mengerti dan menyayangi. Berbagi cerita suka maupun lara. Sebuah keinginan yang menjadi sebuah realita. Tapi apakah hidup sebatang kara juga akan merasakan kebahagiaan itu?

***

Lagi, Yoona menguap untuk yang kesekian kalinya. Ada rasa enggan yang menghampirinya pagi ini. Hari baru kembali di mulai. Hari dimana ia harus bekerja keras mencukupi kebutuhannya.

Matahari telah menyapanya sejak beberapa menit yang lalu. Memberikan seberkas cahayanya menembus jendela kamar. Yoona masih bergelung dengan selimut tebalnya, masih enggan untuk bangkit. Mata gadis itu masih saja terpejam damai, meskipun sebenarnya ia telah terjaga sejak lama, mungkin saat matahari belum merangkak naik.

Perlahan kelopak mata indahnya terbuka, masih sayu karena rasa kantuk yang tersisa. Ia memaksakan diri untuk bangun, meskipun sebenarnya masih enggan. Untuk meninggalkan ranjang rasanya sangat berat, terlalu sayang dengan ranjangnya.

Di rentangkan kedua tangannya ke udara. Meregangkan ototnya yang sejak semalam beristirahat. Gadis itu menatap ke arah jendela yang masih tertutup oleh gorden biru, warna kesukaannya. Cahaya matahari semakin silau saat gadis itu membuka gorden kamarnya, menampilkan sebuah pemandangan perumahan yang cukup elit di kota Seoul.

Yoona terdiam di depan jendela. Ia masih belum mempunyai niat untuk segera membersihkan diri. Pandangan gadis itu menerawang ke arah kehidupannya sekarang. Kehidupan yang dulu tak pernah sedikitpun terlintas di benaknya.

Tak mempunyai Ayah maupun Ibu, sosok yang seharusnya ada di saat ia ingin berbagi cerita. Tempat mengadu di saat sedih melanda, namun Yoona tak memilikinya lagi. Sebuah kecelakaan yang terjadi empat tahun silam terpaksa menyeretnya masuk ke dalam kehidupan yang entah apa namanya.

Yoona merasa Tuhan tak adil. Di saat umurnya telah siap melihat lebih jauh ke dunia luar, Tuhan mengambil semua harta berharga miliknya. Ayah dan Ibunya pergi begitu saja karena tabrakan beruntun saat mereka hendak menghabiskan liburan ke Busan.

Tragis. Sebuah kata yang dapat menggambarkan keadaan saat itu. Menangis dan menangis, melihat tubuh kaku kedua orangtuanya yang bercucuran darah. Yoona tak mengerti garis takdir Tuhan. Baginya, takdir yang menimpanya adalah yang tersial. Ia tak memiliki seorang pun sanak saudara. Hanya sebuah pesan singkat yang terputus-putus di sampaikan oleh Ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.

“Yoona-ah, maafkan Ayah karena membuatmu menderita. Jalanilah kehidupanmu dengan kuat dan jangan sedikitpun mengeluh. Tinggallah bersama Keluarga Jung. Mereka adalah orang baik, mereka akan menjagamu.”

Pesan Ayahnya itu memang nyata. Dua minggu setelah pemakaman kedua orang tuanya, Yoona bertemu dengan seorang pria dan wanita yang umurnya sama seperti Ayah dan Ibunya. Saat itu keduanya langsung membawa Yoona pindah dari kediaman aslinya menuju sebuah rumah yang terletak di jantung kota Seoul.

Tuan Jung dan istrinya adalah seorang yang penyayang. Mereka mempunyai dua orang putri. Hanya itu yang Yoona tahu saat ia baru melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah bergaya Eropa ini. Kedatangan Yoona di sambut hangat oleh kedua putri keluarga Jung.

Anak sulung mereka, Jessica Jung adalah yang paling semangat menerima kehadiran Yoona di tengah-tengah keluarganya. Sedangkan anak bungsu mereka, Krystal Jung hanya menyunggingkan senyuman hangat. Yoona tahu baik Jessica maupun Krystal sangat menerima kehadirannya, namun Yoona merasa asing masuk ke dalam keluarga Jung ini.

Yoona mulai menjalani kesehariannya. Di mana ia harus tetap melanjutkan pendidikannya yang tengah berada di tingkat akhir Sekolah Menengah Atas. Kala ujian Yoona harus belajar sendiri, menjadi mandiri tentunya. Tak ada Ibu yang biasanya selalu duduk di sampingnya. Tak ada Ayah yang siap diajukan berbagai pertanyaan tentang soal latihan ujian.

Tapi malam itu, Jessica tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya. Jessica duduk di samping Yoona yang tengah mengisi soal matematika. “Ada yang sulit?” tanya Jessica sembari menengok ke arah buku Yoona.

Yoona menggeleng lemah. Ia merasa segan untuk meminta pertolongan, meskipun memang ada beberapa soal yang tidak ia mengerti. Jessica tersenyum hangat, kemudian mengelus puncak kepala Yoona. “Jika ada masalah, tanyakan saja dengan Eonni. Arraseo?” Jessica masih tersenyum, membuat rasa hangat mulai merambat di dalam hati Yoona yang beku.

Ne, Eonni.” Yoona kembali fokus dengan bukunya, saat Jessica beranjak dari kamarnya.

Pemurung telah menjadi sifat Yoona saat ini. Ia merasa tersenyum adalah sesuatu yang sangat mahal. Pendiam juga termasuk ke dalam salah satu sifat Yoona. Ia akan berbicara saat ditanya dan bicara seperlunya kepada anggota keluarga Jung. Terkesan tidak sopan memang, tapi sifat itu semakin bersarang di diri Yoona.

Juga di saat kelulusan sekolah, Yoona mendapat nilai yang cukup baik. Membuatnya masuk ke dalam sepuluh besar murid terbaik. Namun wajah pemurungnya tak pernah terhapus oleh rasa bahagia. Ia merasa sangat kesepian di saat pembagian penghargaan. Tak ada Ayah dan Ibunya yang melambai sembari tersenyum bahagia di bangku orangtua, meskipun Tuan dan Nyonya Jung yang melakukannya.

Tuan dan Nyonya Jung paham betul dengan perasaan Yoona. Mereka berusaha membuat senyum Yoona reka meskipun itu sulit. Yoona memang tersenyum, namun hanya dalam hati. Ia juga bangga atas hasil jerih payahnya belajar selama ini. Tapi rasa bahagia itu kembali tertutup awan gelap kala teringat dengan kedua orang tuanya.

*

Malamnya, keluarga Jung tengah menikmati makan malam bersama. Yoona menyantap makan malamnya dengan sangat perlahan, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada orang tua angkatnya itu.

“Yoona-ah, bagaimana rencanamu dengan masuk universitas? Apa sudah ada pilihan?” Tuan Jung bertanya dengan nada suaranya yang berat. Kini semua mata yang berada di dalam ruang makan itu menatap ke arahnya, menunggu jawaban.

Yoona menggeleng lemah sembari menatap lekat mata Nyonya Jung. “Kenapa? Kau ingin kami yang mencarikan?” Nyonya Jung bertanya dengan heran.

Yoona bukan menjawab, melainkan bungkam cukup lama. Ada sedikit rasa takut dan segan yang menggelantung di kepalanya. Sebuah masa depan yang telah ia rangkai sendiri dengan tekad yang bulat.

“Aku tak ingin melanjutkan sekolah.” Kini semua yang ada di dalam ruang makan itu menghentikan kegiatan menyantap mereka. Menatap tepat di manik mata Yoona.

“Mengapa kau mengatakan hal seperti itu? Kau harus tetap sekolah, Yoona!” Tuan Jung berbicara dengan nada tegas. Yoona berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengeluarkan alasan.

“Maafkan aku Tuan Jung. Aku ingin bekerja saja daripada melanjutkan pendidikan. Bersekolah pun tak ada gunanya. aku ingin membiayai hidupku sendiri.” Alasan Yoona yang membuat Tuan Jung menatapnya tajam.

“Im Yoona, ayahmu telah menitipkan amanah untuk merawat dan menjagamu. Kau sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Aku bertanggung jawab untuk masa depanmu kelak. Jika kau ingin berkerja di umurmu yang masih 18 tahun, aku sangat menentang. Kau harus tetap bersekolah!” Tuan Jung menatap Yoona yang terdiam.

“Maafkan aku Tuan Jung, telah membuat kau marah dengan sikapku. Tapi aku akan tetap menjalankan masa depan yang telah ku buat sendiri. Aku akan tetap bekerja, Tuan Jung. Terima kasih untuk tumpangan tempat tinggalmu selama ini. Aku akan segera pindah.”

“TIDAK! Kau tidak bisa memutuskan sesuatu dengan sendiri, Yoona. Baik, aku akan membiarkanmu bekerja. Tapi tetaplah tinggal di sini. Aku tak ingin melihatmu terlantar di dunia luar sana tanpa tujuan pasti. Tetap tinggal disini, kali ini jangan membantah perintahku!” Tuan Jung berkata dengan nada yang semakin meninggi. Yoona sempat bergidik ngeri dengan suasana tegang saai ini. Namun akhirnya ia menuruti perintah Tuan Jung. Tetap tinggal di rumah bergaya Eropa itu.

Di seberang meja, Jessica menatap Yoona dengan nanar. Ia prihatin melihat sosok Yoona yang selalu saja menggugah hati kecilnya untuk selalu memperhatikan gadis yang umurnya tiga tahun lebih muda darinya. Jessica terus memandang wajah tirus Yoona yang menunduk, sedangkan Krystal kembali menyantap makan malamnya meskipun dalam hati gadis itu juga merasa prihatin kepada Yoona, sama seperti kakaknya.

*

Yoona menghela nafas berat ketika perjalanan hidupnya itu kembali membayang. Bagaikan sebuah roll film, semuanya terputar secara urut di dalam kepalanya. Sejenak ia mencoba tersenyum pagi itu, menguatkan dirinya untuk hidup lebih baik.

Yoona memutar malas pandangannya ke arah jam di atas nakas dekat tempat tidurnya. Satu setengah jam lagi, jam kerjanya dimulai. Segera mungkin ia masuk ke dalam kamar mandi yang memang ada di dalam kamarnya. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk dirinya bersiap. Gadis itu segera menuruni tangga ke lantai utama.

“Yoona-ah, sarapan dulu.” Suara Nyonya Jung memanggilnya dari ruang makan.

Yoona menghentikan langkahnya yang sedikit gaduh, ia menatap Nyonya Jung dengan tatapan menimbang. Haruskah ia ikut sarapan bersama keluarga Jung?

‘Ayolah, hanya sepotong roti untuk menambah tenaga. Kau mau menolaknya? Pikirkan cacing di perutmu yang tengah berteriak lapar!’ batin Yoona.

Akhirnya gadis itu menarik kursi yang berada di samping Krystal. Nyonya Jung memberikan segelas susu hangat untuk Yoona. “Gamsahamnida,” ucap Yoona sopan.

Ia mulai menggigit roti gandumnya yang telah diolesi dengan selai coklat. Jessica yang berada di seberang meja tersenyum manis menatap Yoona. Ia bahagia, gadis itu mau ikut sarapan bersama keluarganya pagi ini. Biasanya Yoona selalu menolak dan beralasan kalau ia sudah terlambat.

“Aku berangkat,” ucap Yoona ketika selesai memakai sepatu flat nya.

Jessica segera berlari ke arah pintu depan untuk menghampiri Yoona. Ia hanya ingin memberikan semangat untuk Yoona dan kalimat hati-hati di jalan.

“Yoona-ah, hati-hati di jalan.” Jessica melambaikan tangannya dari arah teras, menatap punggung Yoona yang kemudian berbalik menatapnya.

Ne, Eonni,” jawab Yoona memberikan seulas senyuman tipis yang hampir tak terlihat.

***

Siwon terperanjat kaget dari tidurnya. Dengan segera ia melangkah tergesa keluar dari kamarnya. Tangisan Stefanny membuat raut wajah Siwon benar-benar cemas.

“Apa lagi kali ini?” gumam pria itu masih dengan langkah kakinya yang besar-besar menuju ruang tengah.

Tangisan Stefanny semakin kencang ketika dirinya memasuki ruangan berwarna putih minimalis itu. Bisa ia lihat Stefanny tengah berada di dalam gendongan seorang baby sitter yang baru bekerja dengannya selama tiga hari.

“Tu…Tuan ma..maafkan saya.” Baby sitter itu menatap Siwon dengan gemetar ketakutan. Ia masih menimang Stefanny di dalam gendongannya.

Siwon tak tega melihat anaknya terus menangis. Ia segera mengambil Stefanny dari gendongan pengasuhnya. “Ini Appa, sayang. Ini Appa,” ucap Siwon berusaha menenangkan anak tersayangnya itu. Tangis Stefanny mereda ketika mendengar suara Ayahnya. Isakan anaknya itu membuat Siwon semakin mengeratkan gendongannya, agar Stefanny bisa tenang.

Setelah meletakkan Stefanny di kamarnya, Siwon segera menghampiri baby sitter yang tengah duduk di sofa ruang tamu dengan kepala menunduk. Siwon menghela nafas berat sebelum memulai pembicaraan.

“Kau kupecat!” Suara berat Siwon membuat pengasuh baru Stefanny itu semakin menundukkan kepalanya lebih dalam. “Tapi sebelumnya, aku ingin meminta penjelasanmu. Mengapa Fanny bisa menangis sekencang itu tadi?” lanjut Siwon.

“Tuan, maafkan saya. Saya yang salah Tuan. Saya lengah di saat menjaga Stefanny yang sedang duduk di atas sofa. Saya ingin memberi Stefanny bubur, tapi tiba-tiba Stefanny merangkak dan terjatuh dari atas sofa. Maafkan saya Tuan,” jelas baby sitter itu dengan raut ketakutan.

Pantas saja, dahi anaknya itu benjol. Berarti posisi jatuh Stefanny adalah kepala dulu yang mencapai lantai. Siwon meringis membayangkan kejadian tadi.

Siwon mengantarkan baby sitter itu sampai depan pintu apartementnya. Baby sitter itu membungkuk hormat sebelum beranjak pergi. Ini sudah ke empat kalinya Siwon memecat seorang baby sitter dalam dua minggu. Mereka tak pernah becus menjaga Stefanny yang usianya masih 8 bulan. Selalu saja anaknya itu terluka entah di kepala, kaki atau tangan.

Siwon melangkahkan kakinya menuju kamar anak semata wayangnya itu. Ia menatap sedih kepala Stefanny yang masih benjol. Bekas air mata anaknya itu masih belum kering di pipi chubby-nya. Selalu seperti ini, ketika ia menatap wajah Stefanny, pikirannya terbang ke arah sosok ibu sang malaikat kecilnya itu.

Tiffany Hwang. Nama yang sampai sekarang masih Siwon cintai. Sosok yang seharusnya tengah menggendong Stefanny dan merawatnya hingga dewasa. Sosok yang seharusnya menemaninya menjalani hidup di dunia. Tapi semuanya telah sirna ketika sosok itu pergi ke alam yang lebih kekal.

Tiffany meninggal ketika melahirkan buah hati mereka. Siwon tak menyangka bahwa istri tercintanya itu harus meninggalkannya ketika kehidupan keluarganya telah sempurna. Dokter berkata bahwa Tiffany memiliki kista yang berada di Stadium 3. Siwon tak percaya dengan ucapan Dokter itu, setahunya Tiffany tak pernah mengidap penyakit apapun. Bahkan saat terakhir kali mereka memeriksa kandungan Tiffany, keadaannya baik-baik saja.

Siwon masih ingat betul saat ia bersitegang dengan Dokter Lee, spesialis istrinya itu.

“TIDAK MUNGKIN! IA TAK MENGIDAP PENYAKIT ITU! ISTRIKU SEHAT!” Teriak Siwon di depan Dokter yang tengah menatapnya dengan tatapan datar.

“Tapi Anda bisa lihat? Nyawa istri Anda tidak dapat di selamatkan. Ia terlalu lemah saat operasi pengeluaran bayinya,” ucap Dokter itu santai membuat Siwon semakin naik pitam.

“KAU YANG MEMBUNUHNYA!” Teriak Siwon kini semakin kencang. Beberapa perawat langsung menyeretnya keluar dari ruangan Dokter Lee. “AKAN KU BUAT KAU MEMBAYAR SEMUA INI DENGAN HARGA YANG SETIMPAL!” Teriak Siwon lagi sebelum benar-benar keluar dari ruangan Dokter itu.

Setelah kejadian itu, Siwon meminta tolong kepada sahabatnya yang bernama Shim Changmin. Sahabatnya itu adalah salah satu Jaksa yang bertugas di luar negeri. Dengan mudah Changmin menyimpulkan bahwa kejadian yang manimpa Tiffany adalah sebuah mal praktek. Karena ada cairan yang di suntikkan pada selang infus Tiffany dan cairan itu langsung menyerang tubuh Tiffany yang masih lemah pasca operasi melahirkan.

Semenjak itu Siwon sangat membenci Dokter Lee! Dokter sialan itu, julukan Siwon untuk Dokter Lee, melarikan diri entah kemana. Dan sekarang Changmin bersama anak buahnya masih melacak jejak Dokter gadungan itu.

Siwon sangat terpuruk setelah pemakaman Tiffany. Keluarga istrinya itu langsung memutuskan tali silaturahmi dengannya atas alasan mereka tak mau menambah panjang masalah antar keluarga. Siwon benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikir keluarga istrinya itu, meskipun ia masih memiliki Ayah dan Ibu, tapi tali silaturami itu harus tetap berjalan meskipun sosok Tiffany telah tiada.

Siwon kembali ke rumah orang tuanya setelah pulang dari pemakaman. Ia segera menghampiri anaknya. Siwon menangis ketika anak perempuannya itu berada di gendongannya. Ia bahkan belum menyiapkan sebuah nama untuk buah hatinya itu. Masih dengan air mata yang berlinang, Siwon mencoba menggerakkan bibirnya.

“Stefanny.”

Seulas senyum tercipta di tengah tangisnya. Ia memberi nama anak perempuannya itu Stefanny. Sebuah nama yang memiliki arti sama seperti Ibunya, daun bunga yang cantik. Stefanny Choi, begitulah nama anak perempuannya.

Sampai sekarang Siwon memanggil malaikat kecilnya itu dengan nama Fanny, sama seperti dulu ia memanggil Tiffany. Ia tak ingin melupakan sosok Tiffany. Sedikitpun ia tak ingin menghilangkan nama Tiffany dari kehidupannya.

Siwon tersadar dari lamunan panjangnya. Ia sedikit terkejut ketika melihat ke arah jam dinding bergambar Barbie yang ada di kamar Stefanny. Dua jam lagi ia harus masuk kerja. Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu membereskan keperluan Stefanny untuk satu hari ini. Ia akan menitipakn Stefanny kepada orangtuanya. Mungkin kali ini ia harus mencari seorang pengasuh lagi untuk Stefanny, tapi bukan seorang baby sitter. Ia sudah terauma.

***

Yoona mendorong pintu kayu yang ada dihadapannya. Ia baru saja tiba di tempat kerjanya. Sebuah restoran tempat makan yang terletak di pinggiran kota Seoul. Selama tiga tahun, tempat ini lah yang mencukupi kebutuhan Yoona. Meskipun gajinya tak seberapa, Yoona tetap setia mengabdi. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun dengan tempat kerjanya yang bisa di bilang sepi pengunjung itu.

“Hey, mengapa melamun di depan pintu? Ayo masuk.” Tegur suara yang langsung membuat Yoona tersenyum. Itu Yuri, teman seperjuangannya. “Kau ada masalah?” tanya Yuri ketika mereka sedang berganti pakaian di dalam ruang ganti pegawai.

“Tidak. Aku hanya sedikit lelah,” jawab Yoona membuat Yuri menyernyit heran.

“Lelah? Bahkan semalam pengunjung kita sangat sedikit,” ujar Yuri.

“Ya, aku tahu itu. Bukan tubuhku yang lelah, tapi batinku.”

Yuri memukul pelan bahu Yoona sembari terkekeh, “Kau ini ada-ada saja. Ayo cepat kita bekerja,” ajak Yuri sembari merangkul Yoona. Yuri adalah sosok sahabat untuk Yoona. Tak pernah sedikitpun Yuri memasang wajah lelah seperti dirinya saat ini.

Saat keluar dari ruang ganti pegawai, seorang pria menghampiri keduanya. Dengan senyum yang lebar dan seragam yang sama dengan mereka, pria itu melambai, menyapa keduanya.

Annyeong Kyuhyun Oppa,” sapa Yuri.

Kyuhyun semakin berjalan mendekat. Sosok tampan dengan rambut coklat itu membalas sapaan Yuri dengan tersenyum dan terus memperhatikan Yoona. Yuri tahu akan saat-saat seperti ini. Dengan perlahan ia melangkah pergi meninggalkan Yoona berdua dengan Kyuhyun.

“Hey, Yoong,” sapa Kyuhyun membuat Yoona menoleh.

“Eh, Oppa. Annyeong.” Senyum terlukis di wajah Yoona yang semulanya sendu.

“Kau sakit? Wajahmu sedikit pucat.” Kyuhyun menatap Yoona khawatir. Yoona lagi-lagi hanya tersenyum dan menggeleng pelan.

“Tidak Oppa. Aku hanya sedikit lelah. Oppa kembalilah bekerja,” ucap Yoona kemudian pergi meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun terus memperhatikan sosok Yoona yang tengah sibuk membersihkan meja. Ia selalu saja mendapat penolakan ketika memperhatikan gadis itu. Entahlah sejak kapan perasaan suka berkembang di dalam diri Kyuhyun untuk Yoona, yang jelas perasaan itu semakin dalam.

Kyuhyun tahu betul kisah hidup Yoona. Dari awal orangtuanya pergi dan gadis itu melamar pekerjaan di restoran ini. Semua itu Kyuhyun dapatkan dari Yuri. Dan dari kisah itu pula, Kyuhyun mulai tertarik untuk semakin dekat dengan Yoona. Namun Yoona mempunyai sikap tak peduli. Gadis itu tak jarang menolak ajakannya atau mengacuhkan semua perhatiannya.

***

“Maaf aku terlambat.” Siwon memasuki ruang rapat dengan wajah bersalah.

Jabatannya sebagai seorang Direktur, mengharuskannya melakukan profesional kerja. Namun, karena pagi ini ia harus mengantar Stefanny ke rumah orang tuanya, jadilah ia terlambat.

Siwon duduk di kursinya dan mulai memimpin rapat. Rapat kali ini membahas perusahaannya yang akan membuka cabang baru di Eropa.

Setelah dua jam mendiskusikan ini dan itu untuk perusahaan barunya, rapat akhirnya selesai. Siwon mengusap wajahnya lelah, ia belum beranjak dari kursinya.

“Hei, kau melamun?” Seseorang menyentuh pundaknya.

“Oh, kau Sica.” Siwon tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum sekilas kepada Jessica yang notabane-nya sebagai Kepala Devisi.

“Kau ada masalah? Kau terlihat lesu akhir-akhir ini,” ucap Jessica memandang Siwon prihatin. Sahabat SMA-nya itu tak pernah terlihat murung seperti sekarang. Terakhir kali ia melihat tampang Siwon seperti itu saat meninggalnya Tiffany. “Apa ini ada hubungannya dengan Stefanny?” lanjut Jessica.

Siwon menghembuskan nafas beratnya sejenak. “Ya. Kau yakin ingin mendengar ceritaku?” tanya Siwon mendapat anggukan semangat dari Jessica. Itulah guna seorang sahabat, tempat berbagi suka dan duka. Jessica menarik kursi dan duduk di hadapan Siwon.

“Kau tahu, pagi ini aku baru saja memecat baby sitter Fanny. Ini yang keempat kalinya dalam dua minggu. Mereka tak pernah benar menjaga Fanny. Tadi pagi Fanny jatuh dari atas sofa dan kau tahu yang lebih parahnya? Kepalanya yang lebih dulu mendarat di lantai. Bukankah itu mengerikan?” jelas Siwon membuat Jessica meringis mendengar ceritanya.

“Itu benar-benar keterlaluan. Lalu sekarang Fanny kau titipkan siapa?”

“Aku menitipkannya pada Eomma. Aku bingung harus bagaimana. Kau juga tahu, Eomma dan Appa sibuk. Mereka memang senang Fanny ku titipkan disana, namun itu akan semakin membuat mereka lelah. Di tambah Sooyoung yang baru pulang kuliah saat petang, ia tak dapat membantu banyak.” Wajah Siwon semakin terlihat lesu. Jessica menepuk pundaknya untuk memberi semangat.

“Jadi bagaimana rencana kedepannya? Kau ingin mencari seorang baby sitter lagi untuk Fanny?” tanya Jessica.

Siwon menggeleng lemah, “Mungkin bukan seorang baby sitter lagi, aku sudah trauma. Aku ingin Fanny mendapat seorang pengasuh yang benar-benar dapat  dipercaya. Apa kau bisa membantuku mencarikan pengasuh untuk Fanny?” tanya Siwon penuh  harap.

“Tentu saja. Aku akan membantumu mencarikan pengasuh untuk Fanny.” Jessica menjawab dengan antusias.

Gomawo, Sica-ah. Ingat! Bukan seorang baby sitter,” tegas Siwon mengulang keinginannya.

Arraseo, Sajangnim.”

***

Yoona merapikan rambutnya sebentar sebelum benar-benar keluar dari ruang ganti pegawai. Jam kerjanya telah selesai satu jam yang lalu, tepatnya saat toko ini tutup. Kini jam tangannya telah menunjukkan pukul delapan, hari ini restoran tutup lebih awal karena tak ada satupun pelanggan yang datang.

Yoona menyampirkan tasnya di pundak, kemudian membuka pintu. Di luar, Yuri telah menunggunya dengan wajah di tekuk. Yoona tersenyum geli dan berjalan menuju sahabatnya itu. Di rangkulnya pundak Yuri dan menarik tubuh itu menuju pintu keluar.

“Yoong!” Teriak seseorang membuat Yoona dan Yuri menoleh. Kyuhyun berlari menghampiri keduanya dengan senyum manisnya.

Ne, Oppa. Ada apa?” tanya Yoona heran.

Kyuhyun menatap gadis di hadapannya itu dengan ragu, ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Apa kau mau pulang bersamaku?” tanya Kyuhyun dengan suara pelan. Yuri yang berada di samping Yoona terkekeh tanpa suara.

Ne? Oppa ingin mengantarku pulang? Tapi aku dan Yuri—“

“Ya! Yoona aku lupa. Aku pulang duluan!” teriak Yuri membuat Yoona heran. Ia menarik baju Yuri sebelum sosok itu berlari meninggalkannya.

“Kau melupakan apa, hah?!” tanya Yoona menatap sahabatnya dengan mata yang mendelik.

“Itu…ah ibuku menyuruhku pulang cepat karena…karena.. Ah! Pokoknya aku harus cepat pulang sekarang. Kau pulang bersama Kyuhyun Oppa saja, ya? Annyeong!” Yuri berlari secepat kilat meninggalkan Yoona yang menyumpahinya dalam hati. Dasar tidak setia kawan!

“Yoong?” tegur Kyuhyun kepada Yoona yang masih memandang sosok Yuri dengan kilatan marah. “Kau mau ‘kan pulang bersamaku?” ulang Kyuhyun.

Yoona menatap pria di depannya sekilas sebelum mengangguk setuju. Kyuhyun bersorak girang di dalam hatinya. Ia segera berlari menuju motornya yang ia parkir tak jauh dari tempatnya berdiri bersama Yoona.

***

Udara malam ini begitu segar, karena musim semi baru saja di mulai. Yoona menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya saat ini. Kyuhyun yang sedang berkonsentrasi pada kemudi masih berperang dengan detak jantungnya yang menggila.

Ini bukan pertama kalinya ia mengantar Yoona pulang, namun debaran itu selalu saja terjadi ketika tangan ramping Yoona melingkar di pinggangnya. Dan hembusan nafas gadis itu terasa hangat di punggungnya, tempat Yoona menyandarkan kepalanya seperti saat ini.

Kadang Kyuhyun tak habis pikir, mengapa Yoona memiliki banyak sifat yang sulit di tebak. Kadang dingin. Kadang konyol. Tapi yang terpenting untuknya adalah, Yoona yang selalu terlihat manis di saat apapun.

“Yoong, sudah sampai.” Kyuhyun menghentikan motornya tepat di depan pintu pagar rumah keluarga Jung.

Yoona segera tersadar dan menegakkan kembali kepalanya dari punggung Kyuhyun. Ia melepaskan helm dan memberikannya kepada Kyuhyun. “Gomawo, Oppa,” ucapnya di sertai senyuman tulus.

Ne, kau istirahatlah. Wajahmu terlihat lelah,” ucap Kyuhyun di tanggapi oleh Yoona dengan tawa. Ia memukul lengan Kyuhyun pelan.

“Eisshh, aku tak apa-apa. Oppa hati-hati di jalan. Annyeong.” Yoona melangkah masuk ke dalam pintu pagar dan berjalan menuju rumah keluarga Jung.

Kyuhyun masih terus memperhatikan Yoona dari balik pagar yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa. Ia terus memperhatikan Yoona hingga sosok itu menghilang di balik pintu masuk.

“Aku menyukaimu, Yoong,” gumamnya dengan wajah sendu.

To Be Continue…

Bagaimana part 1 nya? Ini masih membingungkan?? Aku udah jelasin semuanya. Dan masalah treaser, aku minta maaf banget ya kalo gak jelas huhuhu T.T

Semoga aja part 1 nya gak bikin kalian bingung lagi ya T.T

Aku tunggu komentarnya ^^ Gomawo…

69 thoughts on “My Beautiful Servant (Part 1)

  1. Yee ahirnya kluar jga dri kmrin bingung teasernya tentang apa sih nih jdi pingin cpt baca part2 penasaran, mau ada konflik apa di crita slnjutnya cinta segitiga kah?

  2. Baguuuus kok un !! Bagus bagus bagus (y)

    Gak nyangka kyuhyun oppa buka restoran kkkk ~

    Dtnggu next partnya un😀

    Klw boleh bsok-bsok dimasukin foto baby nya kkk ~ jadi makin gemes ntar sama stefanny choi🙂

  3. kasian banget siwon, baru awal cerita udah di tinggal ama istrinya..
    kereen banget,
    ff rain drop kapan publishnya??
    udah lama banget nunggu..

  4. wah seru2 ff na tpi di chap slanjut na banyakin yoonwon moment na ya..
    dan di tunggu the wedding blind 4 cpet publis ya🙂

  5. Sukaaaa banget cinta yoonwonkyu…
    Bakalan jd cinta segitiga seru karena pairing kesukaan ku yoonwonkyu…
    Gumawo author…
    Sukaaa…sukaa…
    Lanjut jangan lama2 yaaa….
    Gak sabar nunggu moment yoonwon nya…

  6. Saking senangnya, ^^
    Rasanya jantungku meledak2!!!!!!! #lebay.com -_-
    Huffttt … lanjut thor! #lu kira raksasa?# kereeenn!!!
    aku member setia di page ini! semua fanfic udh kubaca!😀
    Daebakkk!!!~

  7. Waahh part satu udh update ..
    Emm yoonwon belom ketemuan ..
    Emmm apa jessica akan minta yoona buat ngasuh anak siwon???
    Emm penasaran..kyu suka sama yoona juga …
    Waahhh pairingny bagus tapi tetep yoonwon ..

    Aku tunggu next part😉

  8. saeng ff-mu selalu daebak..!! #twotthumbs
    masih penasaran bgt..
    yoona eonni sifatnya lain daripada yg lain..
    yoonwonkyu aku suka pairing ini..
    yoonwon belum keluar..
    masih kyuna nih kelihatannya..
    ditunggu part selanjutnya..
    keep hwaiting..

  9. Annyeong!!
    wach,qw ska m crtax,,smoga part slnjutx YoonWon dh ktmu n bxk moment YoonWonx…
    lnjutanx jgn lma2 Thor,,Gumawo!!
    YoonWon Daebak!!!🙂

  10. Cerita bangus thor ditunggu part selanjutnya dan jangan lama2 publisnya karena aku suka FF YoonWon dan part2 harus banyak moment2 Yoonwon

  11. waahh senangnya ada ff lagi tentang yoonwon ditunggu ya part 2 nya😀
    ohh y kapan publish lag ff “Rain Drop” ??????????????

  12. aq absen dulu ya saeng! otak ku lagi buntu bgt ni, gg tw mw comment apa? aq jg blm bca semuanya. so, comment pnjang lebarnya besok aja ya!^^

    • Ceriitanya bgus saeng, gampang d mengerti n enak d baca. Konfliknya jgn trlalu berat ya saeng!! D tunggu part selanjutnya!!!^^

  13. ff x kereen, ksian bnget fanny gra baby sister kpala x bnjol :>… mga ajj sica bza cri pngrus bayi yg bza jgain fanny dgn baik…

  14. Yes..! Tebakan ku tentang treasernya ada benar..😀

    Kasian sekali jalan hidupnya Yoona eonni..😦
    Untung ada keluarga Jung yg super duper baik..🙂

    Siwon oppa jadi single parent..??
    Tenang oppa, bentar lagi juga ada bidadari yg akan melengkapi hidup mu..🙂

    Authornya jangan nangis dong..
    Part inu daebak..
    Treasernya juga bagus banget..🙂

    Fihgting..!!!😀

  15. Yes..! Tebakan ku tentang treasernya ada yg benar..😀

    Kasian sekali jalan hidupnya Yoona eonni..😦
    Untung ada keluarga Jung yg super duper baik..🙂

    Kyuhyun oppa suka ama Yoona eonni..???
    Jangan deh oppa..!

    Siwon oppa jadi single parent..??
    Tenang oppa, bentar lagi juga ada bidadari yg akan melengkapi hidup mu..🙂

    Authornya jangan nangis dong..
    Part inu daebak..
    Treasernya juga bagus banget..🙂

    Fihgting..!!!😀

  16. yahhh … krain fany ank.nya siwon oppa ntu tiffany eonnie ,,, eh t’nyta,, dy istrinya😉
    tpi ttp keren kok😉

    ttp smangat😉

  17. wah nice story, disini yoonwon blm d pertemukan ya, hehe aku yoonwon shipper apapun itu walaupun udh prnah aku tetep baca lagi gomawo author🙂

  18. Aahhh siwon jadi duren nih trnyata crtanya ehhehhehe… seruu seruu thor…

    kyuppa suka ama yoona ya?? Andweeee yoona ama wonppa hehehhe..

    lanjut thor ^^

  19. Ping balik: My Beautiful Servant (Part 4) | kpopfansficarea

  20. Ping balik: My Beautiful Servant (Part 4) | Read Fan Fiction

  21. yah..sayang juga kalo yoona gak melanjutkan kuliah,, dengan kecerdasan yang dimilikinya, kalo dia kuliah kan setidaknya dia dapat pekerjaan yang lebih baik, apalagi keluarga jung juga memperlakukan dia dengan baik,, makin penasaran sama kelanjutan ceritanya,, lanjut next part🙂

  22. Baru baca part 1 nya udh bikin langsung suka ni ff, kasihan Yoona dia hidup sebatang kara. Untung aja ada keluarga Jung mau mengurusnya dengan baik
    Tapi kenapa Yoona terus murung gitu ya
    sedih bgt, ni ff bikin penasaran bgt. Lanjut author…

  23. Bacaa ulang part 1 hehhee udh agak lupa soalnya😄

    Jgn smpe yoona suka ama kyu ya😦
    Kyuhyun oppa mending ama yuri aja hihihi..

    Daebaaakkk ^^

  24. Ping balik: My Beautiful Servant (Part 5) | kpopfansficarea

  25. Di sini blum ada moment yoonwonnya semoga di chapter slanjutnya udh ada moment YW🙂 ….kasian yoona di tinggal ke2 ortunya,untung kluarga jung orgnya baik🙂

  26. Semoga aja nanti pas yoona eonni jadi pengasuh nya stefany, siwon oppa bisa suka sm yoona
    ini cinta segitiga ya? Ada kyuhyun juga nih, untung ada keluarga jung yg baik ke yoona eonni..

  27. Kasian juga sama yoona nya,,
    Kegilangan kedua orang tuanya saat usianya masih belia,,
    Untung aja ada keluarga jung yang merawat dia dan untung nya semua anggota keluarga nya baik-baik sama yoona apa lagi jessica, sayang aja yoona nya masih belum bisa terbuka sama dia..

    Ga sabar pengen cepet-cepet ada momen yoonwon nya..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s